Tampilkan postingan dengan label cerita fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita fiksi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Juni 2022

BULAN DI ATAS LUKA (II)

 

 


Bulan ingin tampak berbeda saat sang pangeran muncul di hadapannya. Ia pun pergi ke sebuah butik ternama bersama sahabat karib untuk membeli beberapa buah gaun. Di sana dipilihnya gaun-gaun indah yang bisa membuatnya tampak semakin cantik. Setelah selesai memilah dan memilih, bulan mengajak sahabatnya, Feeza untuk istirahat sejenak di cafe yang tak jauh dari butik tersebut.

Kursi-kursi telah penuh terisi oleh sepasang muda-mudi yang masih mengenakan seragam sekolah. Mereka begitu tampak fun, bercengkrama bersama teman, bercanda ria, sepertinya tak terbesit sedikit pun dalam benak mereka bahwa masa remaja hanya sesaat, bukankah sebaiknya dimanfaatkan untuk hal-halyang berguna di kemudian hari. Tapi biarlah namanya juga masih remaja, besok juga ia akan tahu sendiri saat tiba waktunya.

Setelah selesai mengisi panggilan perut dan bercanda ria, akhirnya keduanya memutuskan untuk pulang. Sebelum berpisah Nafeeza sempat menyelipkan sesuatu di tangan bulan. Dilihatnya secarik kertas yang ia terima.

“Hah....undangan pernikahan...???” tanyanya setengah tak percaya. “Jadi kamu,,,akan mendahuluiku?” tambahnya.

Feeza, demikian akrab disapa hanya tersenyum sambil berujar enteng.

“Yeach,,,begitulah....! jodoh telah datang, untuk apa ditunda? Bukankah hal demikian sunnah Nabi? So, lebih cepat, lebih baik..!”

Keduanya tertawa renyah.

“Hmmm..mudah-mudahan sebentar lagi aku bisa menyusulmu sobat..!!” doa Bulan dalam hati sambil terus memandangi undangan biru yang berada di genggamannya. Ia teringat mimpi papanya, ia sangat berharap mudah-mudahan mimpi itu benar adanya dan dalam waktu dekat mimpi itu terealisasikan.

“Pulang yuk....!!!” ajakan Feeza menyentakkan Bulan yang masih memandangi undangan manis itu.

***

“Bulan,,, kenapa belum berangkat sayang?” pertanyaan mama bernada keheranan meluncur begitu saja saat melihat Bulan yang masih sembunyi di balik hangatnya selimut. Selimut bergambar mikcy mouse warna hijau muda segar itu didapatnya pada ultah ke-22. Dari seseorang yang pernah berjanji akan berada di sisinya. Namun kini,,? Oh no..! untuk apa kembali pada masa silam.

“Bulan males Ma...!!” sahutnya dengan agak berat

“Lho mengapa? Feeza itu kan sahabatmu. Kalian sudah lama bersahabat, kebahagiaanmu juga kebahagian Feeza begitu pun sebaliknya. Tapi mengapa di saat seperti ini kau malah mengurung diri dalam kamar? Saat ini Feeza membutuhkanmu, ia ingin saat bahagia kau pun ada di sana”

“Bulan malu Ma....” jawab Bulan dengan berat, beban itu telah membuat badannya merasa tak nyaman, derita batin membuatnya tak enak badan. Suaranya parau seperti akan menangis.

“Bulan malu Ma, karena hanya Bulan sendiri yang belum menikah. Semua teman-teman bulan pasti akan menegejek Bulan” sambungnya

“Sst...Bulan,, tidak baik berpikiran seperti itu. Ingat Feeza pernah berkata, Allah berfirman dalam hadis bahwa Allah itu mengikuti persangkaan hambanya. Jadi kita harus berfikiran positif agar hasilnya pun positif. Siapa tahu dari menghadiri pesta pernikahan ini Allah mempertemukan kamu dengan seseorang yang pantas mendampingimu” kalimat-kalimat itu melesat dengan halusnya dan tepat merasuk dalam lubuk kalbu.

Bulan merasakan energi positif mengalir dalam tubuh melalui aliran darahnya. Wajah muram yang hampir mempengaruhi cuaca itu kini sirna seketika. Badan yang terasa patah-patah karena hati, kini kembali segar tanpa suplemen apa pun. Tanpa dikomando ia langsung membersihkan diri, berdandan secantik mungkin lalu berangkat sambil terus melantunkan do’a agar dalam pernikahan sahabatnya itu, ia bisa menemukan jodohnya.

Terdengar suara genderang merdu berbaur dengan suara-suara para undangan, dilihatnya bunga-bunga cantik yang menghiasi pelaminan bak singgahsana Raja dan Ratu. Di singgahsana itu kini tengah diduduki sepasang Raja dan Ratu yakni Feeza dan suaminya. Butiran bening hampir berloncatan dari pelupuk mata Bulan saat menyaksikan pemandangan tersebut, karena sesungguhnya ia sangat ingin berada di singgahsana seperti itu bersama seseorang yang akan menenmani hidup hingga ajal menjemput.

“Kak Bulan….!!!” Panggil seseorang dari arah samping

“Hai,, Siska!!”

“Masih sendirian saja?” sindir Siska

Bulan melirik sosok di sebelah Siska. Sosok itu ....

BERSAMBUNG....

Jumat, 17 Juni 2022

Bulan di atas Luka

 

Bulan di atas Luka




Pagi itu langit mendung. Burung-burung seolah lebih memilih bercengkrama di sarang bersama keluarga daripada terbang dan meramaikan angkasa. Begitu pun dengan pipit yang enggan mencericit. Suasana itu sama persis dengan hati Bulan yang tengah bersedih, terluka, dan teriris, perih rasanya. Wanita yang berumur 30-an itu tetap diam dan membisu sedari tadi, taman yang nyaman tak berarti apa-apa baginya. Yang dirasakan hanya luka.

Luka yang tersiram cuka, perih!!!!!

Mama yang sedari tadi memperhatikannya tak kuasa membendung air mata yang terus saja bercucuran. Air mata duka seorang ibu yang tak pernahmelihat senyum sang anak sejak beberapa tahun yang lalu.

“Sabar sayang…..pasti akan ada yang lain, ia akan datang dengan cara dan waktu yang indah” hibur wanita yang begitu mengasihinya.

Bulan membenamkan wajah lembab ke dada wanita yang telah melahirkannya, mencari sedikit kehangatan yang tak kunjung datang. Semakin miris saja hati ibu. Pikirannya melayang ke beberapa tahun silam.

 

***

Lahir seorang bayi perempuan mungil yang seminggu kemudian diberi nama Bulan Maharani. Hari-hari terus berlalu, si bayi berubah menjadi gadis kecil mungil lalu menjelma dewasa. Seperti gadis-gadis pada umumnya, dia pun berkeinginan sama dengan teman-temannya yaitu bahagia hidup di dunia. Mempunyai cita-cita yang sama seperti semua wanita pada umumnya, yaitu ingin memiliki pendamping yang akan membahagiakan lahir batinnya.

Keinginan itu semakin menjadi-jadi tiap kali ia melihat satu-persatu teman sebayanya digandeng suami. Setiap saat ia selalu menanti genderang merdu yang akan mengiringi langkahnya menuju bahtera rumah tangga yang bahagia, seperti gadis-gadis lain.  Kedua orang tuanya pun selalu membangkitkan impiannya.

“Anakku,, semalam papa bermimpi bahwa datang seorang pemuda tampan hendak melamarmu. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini akan ada seorang pria yang melamarmu” Ucap sang papa.

Bulan yang mendengar hal itu nampak berbinar-binar, ia tak bisa menyembunyikan mimik kebahagiaannya, ia melompat-lompat kegirangan, persis seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru yang diidam-idamkan. Kedua orang tuanya pun tak dapat menahan perasaan bahagia melihat putri semata wayangnya melompat kegirangan.

 

 

BERSAMBUNG ....

Kamis, 16 Juni 2022

JODOH PASTI BERTEMU (III)

 




.... Benar saja, ikhwan Zahdian baru saja membuat status empat menit yang lalu dengan status :

“Jadi wanita cantik itu tentu saja yang berakhlak dan menutup aurat, karena dari akhlak yang baik akan hadir inner beauty, dari menutup aurat menjadi cerdas karena memilih busana yang menyejukkan jiwa, bukan busana yang memancing nafsu. Tentu busana terbaik bagi seorang muslimah adalah busana syari, yaitu hijab dan/atau jilbab syari.”

Zahra membaca perlahan dan merenungkannnya sejenak. “Jilbab syari?” pikirnya. Zahra pun tahu apa yang harus ia lakukan. Segera ia membrowsing di internet untuk mencari jilbab-jilbab syari yang dijual di toko online. Benar saja Zahra menemukan banyak jilbab syari yang dijual di sana. Tanpa pikir panjang, Zahra segera memesan beberapa pasang untuk ia kenakan dan menggantikan jilbab-jilbab yang sebelumnya mungkin kurang syari.

Mulai hari ini ada yang berbeda dengan penampilan Zahra. Dia terlihat begitu sibuk di depan cermin dan mencoba berdandan dengan jilbab-jilbab syari yang baru. Ia terlihat begitu ceria saat mengenakannya. Orang tua pun dibuat kaget dengan perubahan yang dilakukan Zahra.

Akan tetapi tentu mereka hanya bisa tersenyum melihat perkembangan baik dari Zahra, anaknya. Keesokan harinya, Zahra kembali mendapati status terbaru dari sang ikhwan yang berbunyi seperti ini :

Istri idaman itu tentu bukan hanya ia yang pandangannya sejuk nan menentramkan hati suami serta taat pada suami selama itu baik, melainkan juga yang bisa membuat suaminya betah dan selalu tak sabar pulang untuk segera menyantap hidangan buatan istri yang istimewa. Seorang istri yang baik bagusnya bisa masak.”

Setelah membaca status tersebut, Zahra langsung menutup akun facebook. Ia dengan segera dan semangat langsung beralih ke Mbah Google untuk membrowsing berbagai resep masakan. Ia habiskan waktunya hingga satu jam untuk menyimpan berbagai resep masakan yang mulai ingin ia pelajari.

Hingga di keesokan harinya, kedua orang tua merasa terheran-heran saat untuk pertama kalinya bukan sang ibu yang menyiapkan makanan, melainkan Zahra. Zahra dengan cekatan menghidangkan setiap masakan kepada kedua orang tua dan adiknya, Ahmad. Sang ayah dan ibu pun dengan tidak sabar ingin segera merasakan hidangan ala chef Zahra.

“Zahra, kamu tidak membeli makanan di warung, kan?” tanya sang ayah.

“Enggaklah, Bi. Itu Zahra masak sendiri,” jawab Zahra dengan was-was, khawatir masakannya terasa kurang enak.

“Hmm..., rasanya mantap. Ternyata kamu bisa masak juga ya,” puji sang ayah yang kemudian melanjutkan makannya dengan lahap. Zahra pun tersenyum puas. Di hari-hari berikutnya pun Zahra yang memasak dan menghidangkan makanan untuk keluarganya. Sang ayah dan ibu benar-benar dibuat heran dengan perubahan yang terjadi pada Zahra. Akan tetapi diam-diam sepertinya kedua orang tua Zahra sedikit paham apa yang terjadi. Barangkali karena mereka pun pernah muda.

Di hari berikutnya, Zahra kembali mendapati status sang ikhwan yang berbunyi demikian :

Jangan kotori cinta yang suci itu dengan aktivitas pacaran atau hal-hal yang mendatangkan murka Allah. Cara yang terbaik adalah perbaikilah kualitas diri kita agar kita pantas bersanding dengan jodoh yang kelak Allah pilihkan untuk kita...”

Zahra membacanya dengan senyum semringah. Ia paham betul apa maksud status sang ikhwan. Zahra pun bertekad untuk memantaskan diri agar benar-benar pantas mendapatkan jodoh yang terbaik. Benar saja, mulai hari itu Zahra semakin rajin membantu orang tua, rajin beribadah, dan rajin dalam banyak hal. Ibu yang kebetulan melihat Zahra sedang khusyuk shalat Dhuha pun memanggil sang ayah untuk menyaksikan perubahan Zahra yang luar biasa. Keduanya pun menyaksikan sang sulung dengan senyum penuh rasa kebanggaan.

Rabu, 15 Juni 2022

JODOH PASTI BERTEMU (II)



Zahra merupakan gadis yang cukup aktif di media sosial. Ia sangat akrab dengan berbagai media sosial yang ada. Dengan jiwa sosial yang tinggi dan kegemarannya dalam menjelajah dunia informasi membuat Zahra sangat menggemari dunia maya dan sangat betah berlama-lama menghadap ke laptop kesayangannya sambil bersantai di atas kasur yang bernuansa pink. Untuk menguatkan hati dalam penantian jodohnya, ia searching di Mbah Google dengan keyword ‘jodoh pasti bertemu.’ Di sana Zahra menemukan banyak sekali artikel motivasi dan renungan tentang cinta yang menggugah semangat dalam menanti jodoh.

Akan tetapi di sisi lain terkadang membuatnya semakin galau saat menemukan cerita tentang indahnya saat tiba masanya bertemu dengan jodoh. Katanya jodoh kita sudah ditetapkan saat raga kita sudah mulai ditiupkan ruh ke dalamnya.  Namun siapa dia, di mana dia, sedang apa dia, hingga kapan bisa bertemu adalah masih berupa misteri masa depan. Zahra pun kadang berpikir, kata temannya jodoh itu harus dikejar. Tapi ternyata untuk mendapatkan jodoh itu sama seperti menangkap kupu-kupu. Cukup bersikap tenang dan menawarkan umpan yang manis maka kupu-kupu akan senantiasa datang dan hinggapdengan sendirinya.

Tak puas ia searching di Mbah Google, ia pun menelusuri penggugah motivasi cinta dijejaring sosial. Saat sedang asyik berselancar di dunia maya melalui akun facebook,secara tidak sengaja Zahra menemukan status seorang ikhwan yang ia kenal, status yangsangat indah dan mengena di hatinya.

“Ketika engkau begitu merindukan jodoh yang sangat engkau nantikan hadirnya. Maka rindukanlahdia dalam setiap doamu. Rindukanlah dia dalam setiap sujudmu. Pintalah agar dia selalu berada dijalan-Nya. Pintalah agar dia selalu menjaga hatinya. Pintalah agar kalian dipertemukan dengan segera”.

Zahra tersenyum-senyum sendiri membaca status ikhwan yang ia ketahui bernama Zahdian Basri. Zahra cukup mengenal ikhwan yang satu ini. Zahra tahu bahwa ikhwan itu adalah ikhwan yang dikenal tidak hanya baik, tapi juga pintar dan rupawan. Ikhwan Zahdian bahkan cukup familiar karena dia sering diundang di berbagai acara. Alam bawah sadar Zahra pun menggerakkan kursor laptopnya untuk meng-klik profil ikhwan tersebut. Rupanya di dinding FB ikhwan Zahdian didapati banyak sekali status-status yang sangat menggugah dan luar biasa.

Zahra semakin terkagum dan terpesona. Ia pun terusmengarahkan kursornya untuk terus menggeser ke bawah, membaca setiap status yang pernah dituliskan. Hingga akhirnya petualangan diakhiri dengan niat untuk sering-sering membuka facebook dan mengikuti perkembangan statusnya. Keesokan harinya, Zahra dengan semangat membuka akun facebook. Tentu niat utamanya adalah ingin mengikuti status terbaru dari ikhwan Zahdian. Benar saja, ikhwan Zahdian baru saja membuat status empat menit yang lalu yang bunyinya ...

BERSAMBUNG


Selasa, 14 Juni 2022

JODOH PASTI BERTEMU

JODOH PASTI BERTEMU




 Namanya Zahra. Kulit putih, wajah ayu alami, bulu mata lentik, senyum manis bak gula batu, pipi kemerah-merahan, pesona yang sebenarnya cukup untuk membuat predikat sempurna bagi dirinya. Hanya satu kekurangan, ia belum mendapatkan jodoh di usianya yang ke-25.

Usia bagi sebagian wanita adalah usia yang memang sudah saatnya untuk memulai kehidupan baru bersama pasangan seumur hidup. Zahra adalah gadis yang baik hati dan periang. Ia mudah bersosialisasi dan bergaul dengan siapa pun. Bahkan seringkali ia menjadi teman curhat dan keluh-kesah teman-temannya. Hanya saja, terkadang di dalam hati ia harus memendam rasa ‘jengkel’ jika yang harus dibahas adalah masalah jodoh atau rumah tangga. Misalnya di suatu ketika Zahra sedang asyik ngobrol bersama Nara, Dina, dan Novi saat sedang berkumpul bareng di rumah Novi.

“Eh, tahu nggak, si Widiya sudah menikah loh,” cerita Nara membuka pembicaraan.

“Wah, masa sih? Aku baru dengar ya? Menikah dengan siapa? Kapan?” tanya Dina penasaran.

“Kurang tahu juga sih. Cuma setahu saya dia dulu ikhwan yang aktif di kegiatan rohis di kampus yang sama dengan Widiya, menikahnya tahun lalu” jawab Nara dengan mimik setengah serius.

“Eh, tapi si Mila lebih keren loh. Dia dulu menikah saat semester akhir,” Novi menambahi cerita tentang teman yang lain. Maklum, jika kaum Hawa sudah berkumpul, obrolan tentang orang lain adalah menu perkumpulan yang bisa dibilang wajib.

“Gimana tuh dengan kuliahnya? Apa nggak malah rempong ya? Ngurus syarat kelulusan belum kelar malah harus ngurus suami juga,” tanya Nara penasaran.

“Justru sepertinya bagus loh. Coba bayangkan, justru dengan hadirnya suami di sampingnya, ia sudah tidak perlu galau lagi. Jadi ia bisa fokus kuliah dengan tenang. Lagian kan bisa juga menyelesaikan tugas akhir sambil dibantu suaminya dan dihibur di kala susah, so sweet kan?” bela Dina dengan ekspresi aneh, membayangkan dirinya sendiri. Di tengah-tengah obrolan asyik antara Nara, Novi, dan Dina, Zahra hanya berdiam diri sambil membatin, “Huft, nggak ada bahasan lain apa

Ketika membahas persoalan jodoh, Zahra agak sedikit sensi karena seringkali ia merasa galau perihal jodoh dan menikah. Zahra sudah sangat berharap di usianya yang ke-25 ini ia sudah mendapatkan kejelasan perihal jodohnya. Akan tetapi hingga saat ini, tanda-tanda kehadiran jodoh itu masih belum ada.

Tiba-tiba di tengah kegalauannya, Novi yang datang sambil membawakan hidangan teh hangat memecahkan keheningan Zahra.

“Eh, by the way, aku juga mau ngasih kabar gembira loh buat kalian. Kalian tahu Salman?” cerocos Novi dengan nada riang gembira.

“Emmm..., Salman yang Haji Rofik? Cowok ganteng yang lulusan dari Al-Azhar Mesir itu?” timpal Dina dan Nara beriringan.

“Iya. Kalian tahu nggak? Kemarin dia baru saja melamar aku.” jawab Novi sambil mengepalkan kedua tanganya bersatu di depan dadanya seraya menatap ke atas penuh haru dan keriangan, kemudian ia histeris sendiri. “Cuma belum aku jawab. Menurut kalian, enaknya diterima atau enggak ya?” lanjut Novi sambil bertanya, meminta pendapat teman-temannya. Kali ini dengan nada rendah.

Zahra yang pada obrolan sebelumnya hanya diam, kali ini menyahut sambil mengernyitkan dahi dengan nada bertanya dan penasaran, “Kenapa ya, perempuan itu kalau belum dapat jodoh selalu berharap-harap cemas datangnya jodoh. Tapi giliran jodoh datang justru jual mahal”

Novi pun mencoba memberikan penjelasan kepada teman-temannya. “Karena masalah nikah memang bukan main-main. Kita mempertaruhkan seumur hidup kita. Makanya soal nikah kita harus benar-benar mempunyai pertimbangan yang matang sehingga bisa memberikan keputusan yang tepat dan terbaik. Tapi yang pasti, jodoh itu sudah ditetapkan oleh Allah.

Jodoh pasti akan bertemu. Nah tugas kita adalah ikhtiar untuk menggapai takdir yang memang telah ditetapkan oleh Allah kepada kita, dengan ikhtiar yang sebaik-baiknya,” jawab Novi dengan senyum manis yang khas.

“Jodoh pasti bertemu ya?” gumam Zahra pelan sambil menerawang ke atas, pikirannya kemudian melayang memikirkan suatu hal.


BERSAMBUNG ....

Senin, 13 Juni 2022

PENTIGRAF

 RAMADHAN YANG TAK DIRINDUKAN




    Sedari kecil Indah selalu bersemangat untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan tidak hanya terasa istimewa bagi orag dewasa namun juga bagi anak-anak. Di bulan itu, anak-anak diperkenankan main lilin, main kembang api, dan mainan lainnya yang membuat anak-anak lupa merasakan lapar saat mereka sedang berpuasa. Sungguh manis kenangan bulan Ramadhan di benak Indah. Selain bermain, momen yang tak kalah ditunggu saat bulan puasa adalah mendapatkan pakaian baru, jilbab baru, sandal baru, mendapatkan pakaian baru dari ujung rambut hingga ujung kaki. Anak-anak akan saling bercerita dan memamerkan baju lebaran, sandal lebaran, dan THR dari sanak saudara.

    Kegembiraan Ramadhan yang Indah dirasakan terus berlanjut hingga dewasa dan telah berkeluarga. Indah bukan lah lagi anak-anak namun kebahagiaanya menyambut Ramadhan tak pernah sirna. Kehidupannya bahagia setelah dipersunting oleh Mas Aryo seorang prajurit TNI angkatan Laut yang dikenalnya semasa kuliah. Dan kini setelah 5 tahun usia pernikahan mereka hadirlah seorang malaikat kecil yang akhirnya melengkapi kebahagiaan mereka.
Malam itu Mas Aryo pamit untuk melaksanakan tugas.

    “Apa harus sekarang mas? Gak bisa ditunda setelah lebaran?” tanya Indah dengan diliputi kegelisahan dan kecemasan. ia tahu suami harus mengabdi dan taat pada perintah, namun sebagai istri terkadang terbesit nafsu untuk meminta waktu kebersamaan yang lebih. Walaupun sedikit berat hati Indah pun melepaskan kepergian mas Aryo untuk disimpan. Dan benar saja segala kekhawatiran itu terjawab ketika kapal selam yang ditumpangi mas Aryo hilang kontak, dinyatakan tenggelam dan semua awak kapal dinyatakan gugur dalam tugas. Ramadhan tetap indah dan bahagia namun tidak dengan Indah yang terus terkenang pada suaminya yang gugur saat bulan Ramadhan.





Sabtu, 11 Juni 2022

MENYULAM MIMPI BERSAMA TANJUNG KODOK

 


        Fajar telah menyingsing, kokok ayam pun saling bersahutan membangunkan semua hamba yang terlelap dan terbuai mimpi di balik hangatnya selimut. Begitu terdengar adzan subuh yang mendayu-dayu dari mikrofon masjid, Zaira mengakhiri tilawahnya untuk sejenak menyimak dan menjawab adzan. Setelah menunaikan kewajiban sebagai muslim, Zaira kembali melanjutkan bacaan bukunya yang terputus semalam, entahlah ia begitu tertarik untuk mengetahui Tanjung Kodok. Pesona wisata pesisir di daerah Lamongan yang begitu menawan.

        Batu besar yang menyerupai kodok itu ternyata tidak hanya berada di daerah Lamongan tepatnya kecamatan Paciran, namun ternyata ada pula di pulau Bawean. Setelah dilihat secara seksama, ternyata dua batu besar yang menyerupai kodok itu saling berhadapan, dipisahkan oleh laut yang membentang. Konon dua kodok itu saling mencintai, namun tidak bisa bersatu karena lautan yang memisahkannya.

        “Oh... jadi begitu ceritanya, pantas Batu Kodok itu terlihat bersedih”, komentar Zaira Setelah menyelesaikan bacaanya.



        Mentari tanpa malu-malu menampakkan dirinya untuk menghangatkan semua mahkluk di muka bumi ini. Aktivitas pun mulai menggeliat. Beberapa teman kos Zaira sudah keluar dan berolahraga sejenak, sambil mengantri mandi, maklumlah hari ini hari senin awal perkuliahan setelah libur mingguan, biasanya banyak mahasiswa yang masuk pagi. Karena itu harus mengantri panjang.

                                                                                    ***

        “Ra... Andi dan April putus lho...!” tiba-tiba suara itu mengagetkan Zaira, begitu pun dengan berita         yang ia bawa.

        “Hah...?? Masak sih?” Tanya Zaira sedikit bengong.

        “Iya... aku baru diberi tahu tadi pagi.” Jawab Lia dengan mantap untuk meyakinkan Zaira.

        “Katanya sih, mereka putus setelah mengunjungi wisata Tanjung Kodok di pesisir pantai utara Lamongan” Lia memaparkan kronologinya. Tapi Zaira hanya diam. Sedikit pun ia tidak memberi komentar.

        Rasanya tidak mungkin Andi dan April putus begitu saja, secara mereka sudah menjalin hubungan lama banget, sejak di pesantren, berlanjut di bangku kuliah dan rencananya satu tahun lagi akan menikah, tapi kini tiba-tiba putus setelah mengunjungi wisata Tanjung Kodok. 

Zaira teringat pada buku yang tadi pagi ia baca, bahwa jika sepasang muda-mudi mengunjungi Tanjung Kodok maka ia akan berpisah. Karena kodok tersebut tidak rela melihat sepasang kekasih yang berbahagia. 

        “Tapi tidak mungkin...!!” kata Zaira. “Itu kan hanya mitos, tidak mungkin terjadi, aku gak percaya. Aku harus membuktikannya sendiri” katanya mantap dalam hati.

        “Ra... kok bengong sih??” suara Lia membuyarkan Zaira yang terlalu asyik dengan pikirannya.

        “Eh,,,umm,,,,gak ada apa-apa,” jawab Zaira cepat. Padahal di kepalanya banyak hal yang tengah menari-nari. 

        Ia tak habis pikir bahwa Andi dan April akan putus setelah keduanya merencanakan pernikahan. Rasanya seperti mimpi, ia berulang-ulang kali mencubit pipinya, namun sakit yang selalu dirasa. Itu artinya bahwa ia tidak sedang bermimpi, ini nyata. 

Ingatannya terbang ke beberapa masa silam, April terlihat pucat saat menyembunyikan surat untuk Andi yang ia letakkan di balik jam dinding. Maklum sekolah di pesantren antara siswa dan siswi kelasnya dipisah. Waktu pagi kelas tersebut digunakan putra sedangkan putri menggunakannya setelah putra.

Biasanya jika ada yang ingin disampaikan antara putra dan putri mereka akan menuliskan pesan di papan atau di meja. Namun tidak jarang pula menggunakan surat jika banyak informasi yang harus disampaikan. Maklumlah di pesantren tidak diperbolehkan membawa alat komunikasi, HP dan lainnya, yang ada hanyalah kertas, itulah yang menjadi media untuk berkomunikasi.

Hal itu pun terjadi pada Andi dan April, keduanya berkomunikasi dengan menggunakan surat. Surat tersebut kadang dititipkan dan kadang pula diselipkan dalam kelas. Di bawah meja, di balik papan bahkan di balik jam dinding. Agar tidak ketahuan siapa pun khususnya pengurus pesantren. Karena jika sampai ketahuan berhubungan dengan lawan jenis akan dikenakan sanksi. 

April tampak pucat karena ia belum sempat turun dari meja yang ia susun untuk membantu tubuhnya agar menjangkau jam dinding dan meletakkan surat di balik jam tersebut. Tanpa disangka, Zaira dan teman-teman yang lain masuk ke dalam kelas. April begitu gemetaran hingga ia hampir terjatuh. 

   “Gak perlu takut Pril, santai aja kali,,,,kita gak akan lapor” kata Zaira mencoba untuk menenangkannya.

        “Beneran ya,,,!!! Aku mohon...!!” pintanya dengan sangat 

        “Tenang aja....!!!”

        Namun malang melintang, sepulang sekolah pengurus pesantren melakukan razia di berbagai kelas dan surat April ditemukan. Sanksi pun harus dijalaninya yaitu membersihkan halaman pesantren seorang diri selama satu minggu. 

Zaira tersenyum mengingat peristiwa tersebut, April sampai mendapat hukuman untuk bisa berkomunikasi dengan Andi, namun sekarang tiba-tiba keduanya putus. Susah sekali dipercaya. Manusia memang berhak berusaha, namun Allah jualah yang menentukan segalanya.

Weekend tiba, dengan tekat bulat Zaira pergi mengunjungi wisata Tanjung Kodok bersama Mas Akbar calon suami yang telah melamar dirinnya sebulan yang lalu. Dengan sedikit berdebar-debar, antara rasa percaya dan tidak percaya Zaira mendekati batu besar yang menyerupai kodok itu dan menatapnya dalam-dalam.

        “Kasihan kodok ini, jika memang benar kodok ini tidak bisa bersatu dengan kekasihnya, karena sesungguhnya Allah telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Ada energi positif, ada pula negatif. Tidak ada siang yang tidak diiringi malam, ada kesedihan yang kemudian berbuah kebahagiaan. Pun dengan manusia, pernikahan menjadikan hati manusia tenang, karena telah ada yang mendampinginya, ada sosok yang mengiringi langkahnya dalam mengarungi hidup.” Ucap Zaira dalam

hati.

        “Hamba tak percaya ya Allah... jika Tanjung Kodok ini memisahkan dua pasangan kekasih, hanya kehendak-Mu semua bisa terjadi. Dan hamba yakin bahwa dengan ridho-Mu hubungan hamba ini akan

berlangsung di pelaminan.” Katanya dalam hati Zaira dan Akbar kemudian duduk di atas batu kodok, menikmati terpaan angin pantai pesisir Lamongan sambil menikmati sunset ditambah musik dari kecipak ikan yang tengah berkejaran begitu pun dengan ombak yang melambai-lambai di tepian. Begitu indah pesona Tanjung Kodok di mata Zaira.

 

***

        Zaira tersenyum sambil menutup diary yang setia menemaninya hingga ia memiliki dua anak lucu, begitu pun dengan suaminya, Akbar tersenyum di sampingnya.

        “Makanya kita harus berprasangka baik, jangan berprasangka buruk, karena Allah selalu mengikuti persangkaan hambanya” ujar Akbar sambil memencet hidung istrinya.

 



*Disadur dari mitos Tanjung Kodok di daerah pesisir Lamongan 

SOAL ULANGAN HARIAN TEMATIK KELAS 1

Kerjakan soal berikut ini! Memuat…