JODOH PASTI BERTEMU
![]() |
Usia bagi sebagian wanita adalah usia yang memang sudah saatnya
untuk memulai kehidupan baru bersama pasangan seumur hidup. Zahra adalah
gadis yang baik hati dan periang. Ia mudah bersosialisasi dan bergaul dengan siapa
pun. Bahkan seringkali ia menjadi teman curhat dan keluh-kesah teman-temannya. Hanya saja, terkadang di dalam
hati ia harus memendam rasa ‘jengkel’ jika yang harus dibahas adalah masalah
jodoh atau rumah tangga. Misalnya di suatu ketika Zahra sedang asyik ngobrol
bersama Nara, Dina, dan Novi saat sedang berkumpul bareng di rumah Novi.
“Eh, tahu nggak, si Widiya sudah menikah loh,”
cerita Nara membuka pembicaraan.
“Wah, masa sih? Aku baru dengar ya? Menikah dengan siapa? Kapan?”
tanya Dina penasaran.
“Kurang tahu juga sih. Cuma setahu saya dia
dulu ikhwan yang aktif di kegiatan rohis di kampus yang sama dengan Widiya,
menikahnya tahun lalu” jawab Nara dengan mimik setengah serius.
“Eh, tapi si Mila lebih keren loh. Dia dulu menikah saat semester
akhir,” Novi menambahi cerita tentang teman yang lain. Maklum, jika
kaum Hawa sudah berkumpul, obrolan tentang orang lain
adalah menu perkumpulan yang bisa dibilang wajib.
“Gimana tuh dengan kuliahnya? Apa nggak malah rempong ya? Ngurus
syarat kelulusan belum kelar malah harus ngurus suami juga,” tanya Nara penasaran.
“Justru sepertinya bagus loh. Coba bayangkan, justru dengan
hadirnya suami di sampingnya, ia sudah tidak perlu galau lagi. Jadi ia bisa fokus kuliah dengan
tenang. Lagian kan bisa juga menyelesaikan
tugas akhir sambil dibantu suaminya dan dihibur di kala susah, so sweet kan?”
bela Dina
dengan ekspresi aneh, membayangkan dirinya sendiri. Di
tengah-tengah obrolan asyik antara Nara, Novi, dan Dina, Zahra hanya berdiam
diri sambil
membatin, “Huft, nggak ada bahasan lain apa”
Ketika membahas
persoalan
jodoh, Zahra agak sedikit sensi karena seringkali ia merasa
galau perihal jodoh dan menikah. Zahra sudah sangat berharap di usianya yang
ke-25 ini
ia sudah mendapatkan kejelasan perihal jodohnya. Akan tetapi hingga saat ini,
tanda-tanda kehadiran jodoh itu masih belum ada.
Tiba-tiba di tengah kegalauannya, Novi yang datang sambil
membawakan hidangan teh hangat memecahkan keheningan Zahra.
“Eh, by the way, aku juga mau ngasih kabar gembira loh buat kalian.
Kalian tahu Salman?” cerocos Novi dengan nada riang gembira.
“Emmm..., Salman yang Haji Rofik? Cowok ganteng yang lulusan dari
Al-Azhar Mesir itu?” timpal Dina dan Nara beriringan.
“Iya. Kalian tahu nggak? Kemarin dia baru saja melamar aku.” jawab
Novi sambil mengepalkan kedua tanganya bersatu di depan dadanya seraya
menatap ke atas penuh haru dan keriangan, kemudian ia histeris sendiri. “Cuma belum aku jawab.
Menurut kalian, enaknya diterima atau enggak ya?” lanjut Novi sambil bertanya,
meminta pendapat teman-temannya. Kali ini dengan nada rendah.
Zahra yang pada obrolan sebelumnya hanya diam, kali ini menyahut
sambil mengernyitkan dahi dengan nada bertanya dan penasaran, “Kenapa ya, perempuan itu
kalau belum dapat jodoh selalu berharap-harap cemas datangnya jodoh. Tapi giliran jodoh
datang justru jual mahal”
Novi pun mencoba memberikan penjelasan kepada teman-temannya.
“Karena masalah nikah memang bukan main-main. Kita mempertaruhkan seumur hidup kita.
Makanya soal nikah kita harus benar-benar mempunyai pertimbangan yang matang sehingga
bisa memberikan keputusan yang tepat dan terbaik. Tapi yang pasti, jodoh itu sudah
ditetapkan oleh Allah.
Jodoh pasti akan bertemu. Nah tugas kita adalah ikhtiar untuk menggapai
takdir yang memang telah ditetapkan oleh Allah kepada kita, dengan ikhtiar yang
sebaik-baiknya,” jawab Novi dengan senyum manis yang khas.
“Jodoh pasti bertemu ya?” gumam Zahra pelan sambil menerawang ke
atas, pikirannya kemudian melayang memikirkan suatu hal.

🤗🙏
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus