Pinggiran Sungai Kahayan
Fajar telah menyingsing, menandakan hari baru telah tiba. Semua masyarakat di pinggiran sungai kahayan beranjak
dari kediaman, menampakkan
kesibukannya. Di antara mereka ada yang pergi berburu, memancing, berladang dan aktivitas lainnya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Begitu pula denganku,
setiap hari aku bercocok tanam di
halaman belakang rumah dengan istriku, Bungas, dan adiknya, Oboi.
Hasil dari bercocok tanam tak dapat langsung kami
nikmati. Untuk makan
sehari-hari terkadang aku pergi memancing atau berburu. Oboi biasanya menemani ketika pergi berburu atau memancing. Usianya masih muda, tapi semangatnya luar
biasa, begitu pula dengan
kedisiplinannya. “Bang, hari
ini kita berburu atau memancing?” tanya Oboi.
“Sepertinya hari ini kita pergi memancing saja Boi, abang ingin makan ikan jelawat,” jawabku.
“Wah, enak tuh bang. Ayo segera berangkat, Bang, agar tidak berebut dengan warga yang lain,”
Kami pun bergegas menuju sungai Kahayan dengan harapan mendapat ikan jelawat yang segar. Rasanya yang
luar biasa mulai
terbayang-terbayang di benakku. Ah, sedapnya...
Dari kejauhan tampak air kecoklatan yang memanjang dan mengalir terus-menerus tanpa batas. Tiga puluh menit
berlalu tak seekor
ikan pun yang kami dapat. Aku dan Oboi tetap bersabar menunggu sambaran ikan pada mata kail kami. Tiga puluh menit kemudian berlalu, senyum Oboi akhirnya mengembang. Mata kailnya disambar oleh ikan patin.
“Horeee,,,, lihat Abang, Oboi berhasil dapat ikan!”
katanya sambil
berjingkak.
“Hebat Oboi, cepat letakkan ke dalam ember!”
Lima belas menit kemudiaan mata kailku baru ada yang menyambar, dengan penuh keriangan aku mengangkatnya tinggi, namun seketika senyumku menciut karena bukan ikan jelawat yang menyambarnya, namun ikan saluang.
“Tak apa Bang, mari kita coba lagi. Siapa tahu setelah
ini akan ada banyak ikan yang
menyambar mata kail kita,” hibur Oboi.
Satu jam berlalu, aku dan Oboi memutuskan untuk pulang. Kami berdua harus puas dengan ikan patin, saluang, dan
sepat yang kami dapatkan. Cukuplah
untuk makan selama 3 hari, pikirku. Bayangan nikmatnya ikan jelawat pun sirna dari kepala.
“Bang, persediaan makanan semakin menipis,” keluh Bungas suatu hari.
“Hasil bercocok tanam pun tak lagi bisa diharapkan karena hujan tak kunjung datang,” tambahnya.
“Musim kemarau mulai datang, pantas saja ikan tak banyak muncul,” aku membatin.
“Sabar, Dik. Abang dan Oboi akan berburu untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari,” jawabku menghibur.
Senyum merekah dari bibir Bungas menyembul membuat hatiku damai. Aku pun berangkat dengan Oboi untuk berburu dengan membawa riwayang. Riwayang adalah sejenis tombak, namun memiliki tali. Ketika ditombakkan ke binatang buruan,
sekalipun buruannya
besar dan mampu mematahkan gagang tombak, tombaknya tidak bisa lepas. Selain membawa riwayang, kami pun membawa petan atau sumpit.
Setibanya di tengah hutan, aku dan Oboi bersembunyi untuk mengintai hewan yang bisa diburu. Di antaranya
rusa, babi hutan,
unggas dan hewan buruan lainnya. Tanpa menunggu lama kami pun menjumpai seekor rusa yang tampaknya tersesat dari rombongannya. Kesempatan ini tak mungkin kusia-siakan. Dengan segera kuberi isyarat
pada Oboi. Oboi pun mengangguk.
Kami pun segera membidik dan menjatuhkan rusa dengan sumpit yang telah dilumuri getah pohon karet.
Aku dan Oboi bersorak ria, tak perlu waktu lama kami mampu pulang dengan membawa buruan yang sangat lezat.
“Hore, kita bisa makan enak Bang,” sorak Oboi.
“Iya, rusa sebesar ini cukup untuk 5 hari Boi,” jawabku.
Aku pun mengikat kaki rusa dan mengikatkan pada sebatang kayu untuk dipanggul.
Bersambung . ..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar