Bulan
ingin tampak berbeda saat sang pangeran muncul di hadapannya. Ia pun pergi ke sebuah butik ternama bersama
sahabat karib untuk membeli beberapa
buah gaun. Di sana dipilihnya gaun-gaun indah yang bisa membuatnya tampak semakin cantik. Setelah selesai
memilah dan memilih, bulan mengajak sahabatnya,
Feeza untuk istirahat sejenak di cafe yang tak jauh dari butik tersebut.
Kursi-kursi
telah penuh terisi oleh sepasang muda-mudi yang masih mengenakan seragam sekolah. Mereka begitu
tampak fun, bercengkrama bersama teman,
bercanda ria, sepertinya tak terbesit sedikit pun dalam benak mereka bahwa masa remaja hanya sesaat, bukankah
sebaiknya dimanfaatkan untuk hal-halyang berguna di kemudian hari. Tapi biarlah
namanya juga masih remaja, besok juga
ia akan tahu sendiri saat tiba waktunya.
Setelah
selesai mengisi panggilan perut dan bercanda ria, akhirnya keduanya memutuskan untuk pulang. Sebelum berpisah
Nafeeza sempat menyelipkan sesuatu di
tangan bulan. Dilihatnya secarik
kertas yang ia terima.
“Hah....undangan
pernikahan...???” tanyanya setengah tak percaya. “Jadi kamu,,,akan mendahuluiku?” tambahnya.
Feeza,
demikian akrab disapa hanya tersenyum sambil berujar enteng.
“Yeach,,,begitulah....!
jodoh telah datang, untuk apa ditunda? Bukankah hal demikian
sunnah Nabi? So, lebih
cepat, lebih baik..!”
Keduanya
tertawa renyah.
“Hmmm..mudah-mudahan
sebentar lagi aku bisa menyusulmu sobat..!!” doa Bulan
dalam hati sambil terus memandangi undangan biru yang berada di genggamannya. Ia teringat mimpi papanya,
ia sangat berharap mudah-mudahan mimpi
itu benar adanya dan dalam waktu dekat mimpi itu terealisasikan.
“Pulang
yuk....!!!” ajakan Feeza menyentakkan Bulan yang masih memandangi undangan manis itu.
***
“Bulan,,, kenapa belum berangkat sayang?” pertanyaan mama
bernada keheranan meluncur begitu saja saat melihat Bulan yang masih sembunyi
di balik hangatnya selimut. Selimut bergambar mikcy mouse warna hijau muda
segar itu didapatnya pada ultah ke-22. Dari seseorang yang pernah berjanji akan
berada di sisinya. Namun kini,,? Oh no..! untuk apa kembali pada masa silam.
“Bulan males Ma...!!” sahutnya dengan agak berat
“Lho mengapa? Feeza itu kan sahabatmu. Kalian sudah lama bersahabat,
kebahagiaanmu juga kebahagian Feeza begitu pun sebaliknya. Tapi mengapa di saat
seperti ini kau malah mengurung diri dalam kamar? Saat ini Feeza membutuhkanmu,
ia ingin saat bahagia kau pun ada di sana”
“Bulan malu Ma....” jawab Bulan dengan berat, beban itu
telah membuat badannya merasa tak nyaman, derita batin membuatnya tak enak
badan. Suaranya parau seperti akan menangis.
“Bulan malu Ma, karena hanya Bulan sendiri yang belum
menikah. Semua teman-teman bulan pasti akan menegejek Bulan” sambungnya
“Sst...Bulan,, tidak baik berpikiran seperti itu. Ingat
Feeza pernah berkata, Allah berfirman dalam hadis bahwa Allah itu mengikuti
persangkaan hambanya. Jadi kita harus berfikiran positif agar hasilnya pun
positif. Siapa tahu dari menghadiri pesta pernikahan ini Allah mempertemukan
kamu dengan seseorang yang pantas mendampingimu” kalimat-kalimat itu melesat
dengan halusnya dan tepat merasuk dalam lubuk kalbu.
Bulan merasakan energi positif mengalir dalam tubuh
melalui aliran darahnya. Wajah muram yang hampir mempengaruhi cuaca itu kini
sirna seketika. Badan yang terasa patah-patah karena hati, kini kembali segar tanpa
suplemen apa pun. Tanpa dikomando ia langsung membersihkan diri, berdandan
secantik mungkin lalu berangkat sambil terus melantunkan do’a agar dalam
pernikahan sahabatnya itu, ia bisa menemukan jodohnya.
Terdengar suara genderang merdu berbaur dengan
suara-suara para undangan, dilihatnya bunga-bunga cantik yang menghiasi
pelaminan bak singgahsana Raja dan Ratu. Di singgahsana itu kini tengah
diduduki sepasang Raja dan Ratu yakni Feeza dan suaminya. Butiran bening hampir
berloncatan dari pelupuk mata Bulan saat menyaksikan pemandangan tersebut,
karena sesungguhnya ia sangat ingin berada di singgahsana seperti itu bersama
seseorang yang akan menenmani hidup hingga ajal menjemput.
“Kak Bulan….!!!” Panggil seseorang dari arah samping
“Hai,, Siska!!”
“Masih sendirian saja?” sindir Siska
Bulan melirik sosok di sebelah Siska. Sosok itu ....
BERSAMBUNG....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar