Sabtu, 18 Juni 2022

BULAN DI ATAS LUKA (II)

 

 


Bulan ingin tampak berbeda saat sang pangeran muncul di hadapannya. Ia pun pergi ke sebuah butik ternama bersama sahabat karib untuk membeli beberapa buah gaun. Di sana dipilihnya gaun-gaun indah yang bisa membuatnya tampak semakin cantik. Setelah selesai memilah dan memilih, bulan mengajak sahabatnya, Feeza untuk istirahat sejenak di cafe yang tak jauh dari butik tersebut.

Kursi-kursi telah penuh terisi oleh sepasang muda-mudi yang masih mengenakan seragam sekolah. Mereka begitu tampak fun, bercengkrama bersama teman, bercanda ria, sepertinya tak terbesit sedikit pun dalam benak mereka bahwa masa remaja hanya sesaat, bukankah sebaiknya dimanfaatkan untuk hal-halyang berguna di kemudian hari. Tapi biarlah namanya juga masih remaja, besok juga ia akan tahu sendiri saat tiba waktunya.

Setelah selesai mengisi panggilan perut dan bercanda ria, akhirnya keduanya memutuskan untuk pulang. Sebelum berpisah Nafeeza sempat menyelipkan sesuatu di tangan bulan. Dilihatnya secarik kertas yang ia terima.

“Hah....undangan pernikahan...???” tanyanya setengah tak percaya. “Jadi kamu,,,akan mendahuluiku?” tambahnya.

Feeza, demikian akrab disapa hanya tersenyum sambil berujar enteng.

“Yeach,,,begitulah....! jodoh telah datang, untuk apa ditunda? Bukankah hal demikian sunnah Nabi? So, lebih cepat, lebih baik..!”

Keduanya tertawa renyah.

“Hmmm..mudah-mudahan sebentar lagi aku bisa menyusulmu sobat..!!” doa Bulan dalam hati sambil terus memandangi undangan biru yang berada di genggamannya. Ia teringat mimpi papanya, ia sangat berharap mudah-mudahan mimpi itu benar adanya dan dalam waktu dekat mimpi itu terealisasikan.

“Pulang yuk....!!!” ajakan Feeza menyentakkan Bulan yang masih memandangi undangan manis itu.

***

“Bulan,,, kenapa belum berangkat sayang?” pertanyaan mama bernada keheranan meluncur begitu saja saat melihat Bulan yang masih sembunyi di balik hangatnya selimut. Selimut bergambar mikcy mouse warna hijau muda segar itu didapatnya pada ultah ke-22. Dari seseorang yang pernah berjanji akan berada di sisinya. Namun kini,,? Oh no..! untuk apa kembali pada masa silam.

“Bulan males Ma...!!” sahutnya dengan agak berat

“Lho mengapa? Feeza itu kan sahabatmu. Kalian sudah lama bersahabat, kebahagiaanmu juga kebahagian Feeza begitu pun sebaliknya. Tapi mengapa di saat seperti ini kau malah mengurung diri dalam kamar? Saat ini Feeza membutuhkanmu, ia ingin saat bahagia kau pun ada di sana”

“Bulan malu Ma....” jawab Bulan dengan berat, beban itu telah membuat badannya merasa tak nyaman, derita batin membuatnya tak enak badan. Suaranya parau seperti akan menangis.

“Bulan malu Ma, karena hanya Bulan sendiri yang belum menikah. Semua teman-teman bulan pasti akan menegejek Bulan” sambungnya

“Sst...Bulan,, tidak baik berpikiran seperti itu. Ingat Feeza pernah berkata, Allah berfirman dalam hadis bahwa Allah itu mengikuti persangkaan hambanya. Jadi kita harus berfikiran positif agar hasilnya pun positif. Siapa tahu dari menghadiri pesta pernikahan ini Allah mempertemukan kamu dengan seseorang yang pantas mendampingimu” kalimat-kalimat itu melesat dengan halusnya dan tepat merasuk dalam lubuk kalbu.

Bulan merasakan energi positif mengalir dalam tubuh melalui aliran darahnya. Wajah muram yang hampir mempengaruhi cuaca itu kini sirna seketika. Badan yang terasa patah-patah karena hati, kini kembali segar tanpa suplemen apa pun. Tanpa dikomando ia langsung membersihkan diri, berdandan secantik mungkin lalu berangkat sambil terus melantunkan do’a agar dalam pernikahan sahabatnya itu, ia bisa menemukan jodohnya.

Terdengar suara genderang merdu berbaur dengan suara-suara para undangan, dilihatnya bunga-bunga cantik yang menghiasi pelaminan bak singgahsana Raja dan Ratu. Di singgahsana itu kini tengah diduduki sepasang Raja dan Ratu yakni Feeza dan suaminya. Butiran bening hampir berloncatan dari pelupuk mata Bulan saat menyaksikan pemandangan tersebut, karena sesungguhnya ia sangat ingin berada di singgahsana seperti itu bersama seseorang yang akan menenmani hidup hingga ajal menjemput.

“Kak Bulan….!!!” Panggil seseorang dari arah samping

“Hai,, Siska!!”

“Masih sendirian saja?” sindir Siska

Bulan melirik sosok di sebelah Siska. Sosok itu ....

BERSAMBUNG....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SOAL ULANGAN HARIAN TEMATIK KELAS 1

Kerjakan soal berikut ini! Memuat…