Bulan
di atas Luka
Pagi
itu langit mendung. Burung-burung seolah lebih memilih bercengkrama di sarang bersama
keluarga daripada terbang dan meramaikan angkasa.
Begitu pun dengan pipit yang enggan mencericit. Suasana itu sama persis dengan hati
Bulan yang tengah bersedih,
terluka, dan teriris, perih
rasanya. Wanita yang berumur 30-an itu tetap diam dan membisu sedari tadi, taman yang nyaman tak berarti apa-apa
baginya. Yang dirasakan hanya luka.
Luka yang
tersiram cuka, perih!!!!!
Mama
yang sedari tadi memperhatikannya tak kuasa membendung air mata yang terus saja bercucuran. Air
mata duka seorang ibu yang tak pernahmelihat senyum sang anak sejak beberapa
tahun yang lalu.
“Sabar
sayang…..pasti akan ada yang lain, ia akan datang dengan cara dan waktu yang indah” hibur wanita yang
begitu mengasihinya.
Bulan
membenamkan wajah lembab ke dada wanita yang telah melahirkannya, mencari sedikit
kehangatan yang tak kunjung datang. Semakin miris saja
hati ibu. Pikirannya melayang ke beberapa tahun silam.
***
Lahir
seorang bayi perempuan mungil yang seminggu kemudian diberi nama Bulan Maharani. Hari-hari terus
berlalu, si bayi berubah menjadi gadis kecil mungil lalu menjelma dewasa. Seperti
gadis-gadis pada umumnya, dia pun berkeinginan sama
dengan teman-temannya yaitu bahagia hidup di dunia. Mempunyai cita-cita yang sama seperti semua wanita pada
umumnya, yaitu ingin memiliki pendamping yang
akan membahagiakan lahir batinnya.
Keinginan
itu semakin menjadi-jadi tiap kali ia melihat satu-persatu teman sebayanya digandeng suami. Setiap
saat ia selalu menanti genderang merdu yang akan
mengiringi langkahnya menuju bahtera rumah tangga yang bahagia, seperti gadis-gadis lain. Kedua
orang tuanya pun selalu membangkitkan impiannya.
“Anakku,,
semalam papa bermimpi bahwa datang seorang pemuda tampan hendak melamarmu. Mudah-mudahan dalam
waktu dekat ini akan ada seorang pria yang
melamarmu” Ucap sang papa.
Bulan yang mendengar hal itu nampak berbinar-binar, ia
tak bisa menyembunyikan mimik kebahagiaannya, ia melompat-lompat kegirangan,
persis seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru yang
diidam-idamkan. Kedua orang tuanya pun tak dapat
menahan perasaan bahagia melihat putri semata wayangnya
melompat kegirangan.
BERSAMBUNG ....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar