.... Benar saja, ikhwan Zahdian baru saja membuat status
empat menit yang lalu dengan status :
“Jadi wanita
cantik itu tentu saja yang berakhlak dan menutup aurat, karena dari akhlak yang
baik akan hadir inner beauty, dari menutup aurat menjadi cerdas karena memilih
busana yang menyejukkan jiwa, bukan busana yang memancing nafsu. Tentu busana
terbaik bagi seorang muslimah adalah busana syari, yaitu hijab dan/atau jilbab
syari.”
Zahra membaca
perlahan dan merenungkannnya sejenak. “Jilbab
syari?” pikirnya. Zahra pun tahu
apa yang harus ia lakukan. Segera ia membrowsing di internet untuk mencari
jilbab-jilbab syari yang dijual di toko online. Benar saja Zahra menemukan
banyak jilbab syari yang dijual
di sana. Tanpa pikir panjang, Zahra segera memesan beberapa pasang untuk ia
kenakan dan menggantikan
jilbab-jilbab yang sebelumnya mungkin kurang syari.
Mulai hari ini ada yang berbeda
dengan penampilan Zahra. Dia terlihat begitu sibuk di depan cermin dan mencoba berdandan dengan
jilbab-jilbab syari yang baru. Ia terlihat begitu ceria saat mengenakannya. Orang tua pun
dibuat kaget dengan perubahan yang dilakukan Zahra.
Akan tetapi tentu mereka hanya bisa
tersenyum melihat perkembangan baik dari Zahra, anaknya. Keesokan harinya, Zahra kembali
mendapati status terbaru dari sang ikhwan yang berbunyi seperti ini :
“Istri
idaman itu tentu bukan hanya ia yang pandangannya sejuk nan menentramkan hati
suami serta taat
pada suami selama itu baik, melainkan juga yang bisa membuat suaminya betah dan selalu tak sabar pulang untuk
segera menyantap hidangan buatan istri yang istimewa. Seorang istri yang baik bagusnya bisa masak.”
Setelah membaca status tersebut,
Zahra langsung menutup akun facebook. Ia dengan segera dan semangat langsung beralih ke
Mbah Google untuk membrowsing berbagai resep masakan. Ia habiskan waktunya hingga satu jam untuk
menyimpan berbagai resep masakan yang
mulai ingin ia pelajari.
Hingga di keesokan harinya, kedua
orang tua merasa terheran-heran saat untuk pertama kalinya bukan sang ibu yang
menyiapkan makanan, melainkan Zahra. Zahra dengan cekatan menghidangkan setiap masakan kepada
kedua orang tua dan adiknya, Ahmad. Sang ayah dan ibu pun dengan tidak sabar ingin segera merasakan
hidangan ala chef Zahra.
“Zahra, kamu tidak membeli makanan
di warung, kan?” tanya sang ayah.
“Enggaklah,
Bi. Itu Zahra masak sendiri,” jawab Zahra dengan was-was, khawatir masakannya
terasa kurang enak.
“Hmm...,
rasanya mantap. Ternyata kamu bisa masak juga ya,” puji sang ayah yang kemudian
melanjutkan makannya dengan lahap. Zahra
pun tersenyum puas. Di
hari-hari berikutnya pun Zahra yang memasak dan menghidangkan makanan untuk keluarganya. Sang ayah dan ibu
benar-benar dibuat heran dengan perubahan yang terjadi pada Zahra. Akan tetapi diam-diam
sepertinya kedua orang tua Zahra sedikit paham apa yang terjadi. Barangkali karena mereka
pun pernah muda.
Di hari berikutnya, Zahra kembali
mendapati status sang ikhwan yang berbunyi demikian :
“Jangan
kotori cinta yang suci itu dengan aktivitas pacaran atau hal-hal yang
mendatangkan murka Allah.
Cara yang terbaik adalah perbaikilah kualitas diri kita agar kita pantas
bersanding dengan jodoh
yang kelak Allah pilihkan untuk kita...”
Zahra membacanya dengan senyum
semringah. Ia paham betul apa maksud status sang ikhwan. Zahra pun bertekad untuk memantaskan diri agar
benar-benar pantas mendapatkan jodoh
yang terbaik. Benar
saja, mulai hari itu Zahra semakin rajin membantu orang tua, rajin beribadah,
dan rajin dalam banyak hal.
Ibu yang kebetulan melihat Zahra sedang khusyuk shalat Dhuha pun memanggil sang ayah untuk
menyaksikan perubahan Zahra yang luar biasa. Keduanya pun menyaksikan sang sulung dengan
senyum penuh rasa kebanggaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar