Kamis, 16 Juni 2022

JODOH PASTI BERTEMU (III)

 




.... Benar saja, ikhwan Zahdian baru saja membuat status empat menit yang lalu dengan status :

“Jadi wanita cantik itu tentu saja yang berakhlak dan menutup aurat, karena dari akhlak yang baik akan hadir inner beauty, dari menutup aurat menjadi cerdas karena memilih busana yang menyejukkan jiwa, bukan busana yang memancing nafsu. Tentu busana terbaik bagi seorang muslimah adalah busana syari, yaitu hijab dan/atau jilbab syari.”

Zahra membaca perlahan dan merenungkannnya sejenak. “Jilbab syari?” pikirnya. Zahra pun tahu apa yang harus ia lakukan. Segera ia membrowsing di internet untuk mencari jilbab-jilbab syari yang dijual di toko online. Benar saja Zahra menemukan banyak jilbab syari yang dijual di sana. Tanpa pikir panjang, Zahra segera memesan beberapa pasang untuk ia kenakan dan menggantikan jilbab-jilbab yang sebelumnya mungkin kurang syari.

Mulai hari ini ada yang berbeda dengan penampilan Zahra. Dia terlihat begitu sibuk di depan cermin dan mencoba berdandan dengan jilbab-jilbab syari yang baru. Ia terlihat begitu ceria saat mengenakannya. Orang tua pun dibuat kaget dengan perubahan yang dilakukan Zahra.

Akan tetapi tentu mereka hanya bisa tersenyum melihat perkembangan baik dari Zahra, anaknya. Keesokan harinya, Zahra kembali mendapati status terbaru dari sang ikhwan yang berbunyi seperti ini :

Istri idaman itu tentu bukan hanya ia yang pandangannya sejuk nan menentramkan hati suami serta taat pada suami selama itu baik, melainkan juga yang bisa membuat suaminya betah dan selalu tak sabar pulang untuk segera menyantap hidangan buatan istri yang istimewa. Seorang istri yang baik bagusnya bisa masak.”

Setelah membaca status tersebut, Zahra langsung menutup akun facebook. Ia dengan segera dan semangat langsung beralih ke Mbah Google untuk membrowsing berbagai resep masakan. Ia habiskan waktunya hingga satu jam untuk menyimpan berbagai resep masakan yang mulai ingin ia pelajari.

Hingga di keesokan harinya, kedua orang tua merasa terheran-heran saat untuk pertama kalinya bukan sang ibu yang menyiapkan makanan, melainkan Zahra. Zahra dengan cekatan menghidangkan setiap masakan kepada kedua orang tua dan adiknya, Ahmad. Sang ayah dan ibu pun dengan tidak sabar ingin segera merasakan hidangan ala chef Zahra.

“Zahra, kamu tidak membeli makanan di warung, kan?” tanya sang ayah.

“Enggaklah, Bi. Itu Zahra masak sendiri,” jawab Zahra dengan was-was, khawatir masakannya terasa kurang enak.

“Hmm..., rasanya mantap. Ternyata kamu bisa masak juga ya,” puji sang ayah yang kemudian melanjutkan makannya dengan lahap. Zahra pun tersenyum puas. Di hari-hari berikutnya pun Zahra yang memasak dan menghidangkan makanan untuk keluarganya. Sang ayah dan ibu benar-benar dibuat heran dengan perubahan yang terjadi pada Zahra. Akan tetapi diam-diam sepertinya kedua orang tua Zahra sedikit paham apa yang terjadi. Barangkali karena mereka pun pernah muda.

Di hari berikutnya, Zahra kembali mendapati status sang ikhwan yang berbunyi demikian :

Jangan kotori cinta yang suci itu dengan aktivitas pacaran atau hal-hal yang mendatangkan murka Allah. Cara yang terbaik adalah perbaikilah kualitas diri kita agar kita pantas bersanding dengan jodoh yang kelak Allah pilihkan untuk kita...”

Zahra membacanya dengan senyum semringah. Ia paham betul apa maksud status sang ikhwan. Zahra pun bertekad untuk memantaskan diri agar benar-benar pantas mendapatkan jodoh yang terbaik. Benar saja, mulai hari itu Zahra semakin rajin membantu orang tua, rajin beribadah, dan rajin dalam banyak hal. Ibu yang kebetulan melihat Zahra sedang khusyuk shalat Dhuha pun memanggil sang ayah untuk menyaksikan perubahan Zahra yang luar biasa. Keduanya pun menyaksikan sang sulung dengan senyum penuh rasa kebanggaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SOAL ULANGAN HARIAN TEMATIK KELAS 1

Kerjakan soal berikut ini! Memuat…