Kamis, 23 Juni 2022

ANATOMI BUKU

 

PELATIHAN BELAJAR MENULIS PGRI

ANATOMI BUKU



Pertemuan  : 16

Hari/tanggal : Rabu, 22 Juni 2022

Moderator  : Arofiah Afifi

Narasumber : Theresia Sri Rahayu, S.Pd.SD.

Gelombang  : 26

      Tepat pukul 19.00 moderator mengunci grup WA Belajar Menulis gelombang 26. Malam ini yang menjadi moderator adalah ibu Arofiah Afifi atau lebih dikenal dengan Ovi. Beliau merupakan alumni kelas Belajar Menulis glombang 24.

      Sedangkan narasumber malam ini adalah ibu Theresia Sri Rahayu, S.Pd.SD. Beliau merupakan alumnus kelas Belajar Menulis gelombang 4. Untuk berkenalan lebih lanjut peserta diminta untuk berkunjung ke blog beliau, www.cikgutere.com di blog tersebut peserta diarahkan pada artikel yang berjudul Tere Tanpa Liye, di sana beliau menampilkan karya buku yang berjudul Bukan Guru Biasa. Berisi tentang arti seorang guru yang hebat dan inspiratif, di antaranya ada guru blogger, youtuber, bahkan guru inovatif dari berbagai daerah di Indonesia, selain itu, ada juga kisah-kisah menarik yang dialami oleh Cikgu Tere sepanjang tahun 2019 dari perjalanan demi perjalanan yang dilakukan.

Puluhan prestasi telah beliau terima. Dari prestasi menjadi guru terbaik, lomba guru MIPA, olimpiade guru, peserta short course ke luar negeri, resume terbaik, blogger inspiratif, kreator artikel terbaik, peraih emas pada kompetisi gurulympics, peraih beasiswa Australia Award, peserta Wardah Inspiring Teacher. Prestasi tersebut diraih sejak tahun 2014 sampai 2021.

Tanpa berlama-lama, berikut resume dari pemaparan materi terkait Anatomi Buku. Anatomi dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti ilmu yang melukiskan letak dan hubungan bagian-bagian tubuh manusia, binatang, atau tumbuh-tumbuhan.

Kata tersebut lalu dilekatkan pada buku menjadi anatomi buku yang berarti  agian-bagian tubuh yang saling melengkapi satu sama lain sehingga tercipta buku yang utuh. Sebuah buku umumnya terdiri atas sampul, bagian awal (preliminaries), bagian isi (text matter), dan bagian akhir (postliminaries).

1)   Sampul buku memiliki tiga bagian: sampul depan, punggung buku, sampul belakang.

2)     Bagian Awal (Preliminaries), merupakan sejumlah halaman berisi teks, yang dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:

·           Halaman prancis (judul utama saja) hlm. i)

·           Halaman undang-undang hak cipta hlm. ii)

·           Halaman judul utama (judul, subjudul, penulis, editor) hlm. iii)

·           Halaman Katalog dalam terbitan (KDT) (hlm. iv)

·           Persembahan (jika ada) hlm. v)

·           Daftar Isi (hlm. vii)

·           Daftar Gambar (minimal 10 Gambar)

·           Daftar Tabel (minimal 10 Tabel)

·           Pengantar Penerbit (editorial note) (hlm. vii*)

·           Kata pengantar (hlm. ix)

·           Prakata (preface)

3)      Bahan Isi (Text Matter) terletak di antara bahan awal dan bahan akhir. Bahan isi merupakan inti dari sebuah buku terdiri atas:

·           Pendahuluan, untuk mengantar pembaca agar dapat memahami isi buku.

·           Bab dan Sub Bab, dikembangkan dengan panduan 5 W + 1 H

·           Tabel dan Ilustrasi, gunakan ilustrasi yang relevan dan mendukung isi bab / sub bab.

·   Carilah ilustrasi yang tidak mengandung hak cipta. Website penyedia ilustrasi gratis dan tidak mengandung hak cipta, di antaranya : pexels, freepik, pixabay, dll

·     Sitiran/Kutipan, Terdapat dua cara pengutipan pada teks, harus dipilih salah satu dan digunakan secara konsisten, yaitu catatan perut (pengacuan ber- kurung) dan penomoran (footnote dan endnote). Penutup, berisi intisari dan kesimpulan buku. Bahan Isi (Text Matter) Bahan isi terletak di antara bahan awal dan bahan akhir. Bahan isi merupakan inti dari sebuah buku. terdiri atas: Contoh catatan perut: (Wibowo, 2007: 31)

        Contoh footnote

·           Penutup, berisi intisari dan kesimpulan buku.

4)      Bahan Akhir (Postliminaries): meliputi unsur-unsur yang secara berurutan terdiri atas lampiran, glosarium, catatan akhir/endnote, daftar pustaka, dan indeks

·    Glosarium, Memuat daftar kata penting yang terdapat dalam isi buku dan diikuti penjelasannya.

 


Mengenal anatomi buku merupakan suatu pengetahuan yang akan bermanfaat. Sebagai seorang penulis buku, dengan mengetahui anatomi buku, maka kita dapat mengetahui bagian mana dari buku yang harus kita tulis dan bagaimana cara menulisnya. Mengenal dan memahami anatomi sebuah buku akan membawa seorang penulis menjadi lebih dekat dengan bahan bukunya. Oleh karena itu, milikilah kemampuan untuk membedah bagian per bagian dari sebuah buku, niscaya kita akan menjadi seorang penulis buku yang handal.

Menurut narasumber anatomi buku yg disajikan dalam modul (yang beliau siapkan) itu sifatnya ideal. Tidak perlu harus ada semua dalam buku yang akan atau sedang bahkan ditulis atau diterbitkan. Terlebih jika buku fiksi dan kumpulan resume tidak harus memuat semua komponen yang ada dalam anatomi buku.

Dan di akhir resume ini, penulis akan menutup dengan mengutip penutupan di modul yang telah narasumber bagikan. 



Buku yang baik dan menarik adalah buku yang memberi kesan kepada setiap pembaca. Kesan inilah yang juga harus dipahami oleh penulisnya. Jika burger ini enak, maka pasti orang lain akan tertarik membelinya lagi bahkan merekomendasikannya. Demikian juga nasib sebuah buku.

 

Rabu, 22 Juni 2022

BULAN DI ATAS LUKA (III)

 

    
Bulan melirik sosok di sebelah Siska. Sosok tegap yang tengah menggendong seorang bocah, Didit yang dulu pernah menjadi pelabuhan cinta SMA-nya. Penghianat cinta, ia masih sangat ingat saat laki-laki tersebut akan melamarnya. Kini Didit telah menikah dengan Siska adik kelas yang kecentilan, setelah menikah dengan Lia teman sekelas Bulan. Dasar buaya darat.

“Halo…!!” suara centil Siska menyentakkan Bulan. Masih sama seperti dahulu, centil.

“Ya, maaf…!!” kata Bulan cepat

“Kapan nih mau menyusul seperti kak Feeza?”

Pertanyaan Siska betul-betul menohok perasaan Bulan. Ia pun gelagapan untuk menjawab.

“Hm,,,kapan ya, aku masih mencari yang tepat dan yang terbaik. Aku tak ingin salah langkah, apalagi pernikahan bukanlah permainan” jawabnya sambil melirik Didit, Didit pun memalingkan pandangannya. “Uft…lega rasanya, akhirnya mereka pergi juga”

Bulan celingukan sendiri, dilihatnya ke sana-ke mari tak ada satu pun yang tidak berpasangan, ada bocah-bocah lucu di tengah setiap pasangan. Pemandangan seperti itu selalu ia dambakan, namun hingga sahabatnya maju ke pelaminan ia masih saja seorang diri.

Acara demi acara terus saja berlangsung, hingga acara pemberian restu dan berpose bersama pengantin. Semua para undangan berebut untuk memberi ucapan selamat, sedangkan Bulan memilih untuk memberi ucapan selamat di akhir agar bisa mengobrol lebih lama. Kerumunan para undangan itu kebanyakan adalah temannya yang tengah digandeng oleh suami masing-masing, hanya dirinya seorang diri.

Bulan keluar dari kerumunan para undangan, lari menuju toilet. Ia menenangkan diri sejenak sambil merapikan make-up dan tatanan rambutnya. Dipandangnya pantulan diri di cermin, wajah itu tak jelek, bahkan tak kalah dengan bintang Lux, tapi mengapa hingga kini belum ada pangeran yang melamarnya? Ia manyun di depan cermin.

 

***

 

Senja terus saja beranjak berganti malam yang bertabur bintang-bintang gemerlapan, tampak dari jendela wajah manis menghadap Bulan yang bersinar di tengah kegelapan malam menambah kecantikan wajah Bulan yang bersinar layaknya Bulan di langit. Ada yang tengah dipikirkannya, sepulang dari kantor tadi. Feeza memberi kabar bahwa teman suaminya ada yang tertarik pada Bulan saat melihat bertemu di pesta pernikahan Feeza. Namun pada saat itu ia bimbang, kini dengan melihat penampilan Bulan yang baru akhirnya ia memantapkan hati untuk menjadi sosok yang muhrim, menjadi imam dalam sebuah keluarga kecil bersama Bulan.

Dua hari setelah pernikahan Feeza, Bulan mendapat hidayah, ia akhirnya memutuskan untuk mengenakan jilbab. Dengan menggunakan jilbab wajahnya nampak kian manis dan cantik. Berbeda dengan Feeza yang telah mengenakan jilbab saat kuliah dan aktif di Rohis. Sungguh Bulan tak menduga jodohnya datang setelah ia mengenakan jilbab.

Puji syukur dia panjatkan selalu di setiap detik. Begitu pun dengan di sepertiga malam, ia selalu bermunajat pada sang Khalik yang selalu menyayangi dan mengasihi hambaNya.

Proses lamaran Bulan telah berlangsung beberapa minggu. Hari-hari Bulan diliputi dengan kebahagiaan, tak perlu berlama-lama. restu dari masing-masing orang tua telah dikantongi, lamaran pun telah diterima, pernikahan pun diselenggarakan secepatnya. Tanggal 25 April dipilih sebagai hari ikrar suci dalam pernikahan. Bulan tampak gelisah, jam menunjukkan pukul 9.00 pagi, namun Adi calon suaminya atau mempelai pria belum juga datang. Padahal jam 10.00 akad nikah akan dilangsungkan di sebuah masjid yang jarakanya kurang lebih 30 menit.

Tidak hanya Bulan, kedua orang tuanya beserta kerabat lain, pun Feeza tengah harap-harap cemas. Feeza terus saja mencoba menenangkan hati Bulan, mungkin calon suaminya terjebak macet atau yang lain.

Tiga puluh menit berlalu, datanglah seorang ....

BERSAMBUNG ....


Selasa, 21 Juni 2022

JODOH PASTI BERTEMU (END)

 




Satu bulan telah berlalu hingga perubahan pada diri Zahra sudah benar-benar kentara. Zahra terlihat sudah benar-benar berbeda. Ia tak hanya baik, tapi juga rajin dan pintar memasak. Hari-harinya senantiasa diisi dengan berbagai kegiatan positif dengan perasaan yang riang gembira.

Hingga di suatu hari saat membuka akun facebooknya, Zahra menemukan status yang tak ia duga dan tak pernah ia harapkan sebelumnya. Di dalam status sang ikhwan tertuliskan :

“Mohon doanya kepada semua teman-teman, bahwa saya Insya Allah akan segera melangsungkan pernikahan dengan ukhti Nasya...”

Jleg! Hati Zahra down, kemudian bergetar hebat. Ia benar-benar tak menyangka dan tak siap menerima kenyataan bahwa ternyata ikhwan yang ia dambakan untuk menjadi jodohnya itu akan melangsungkan pernikahan dengan wanita lain, bukan dengan dirinya. Zahra semakin terasa syok karena banyak perubahan yang dia lakukan adalah semata karena termotivasi oleh sang ikhwan dan sangat terkagum dengannya sehingga dia berharap bahwa dengan memantaskan diri maka ia akan layak dan benar-benar dapat bersanding dengan sang ikhwan.

Zahra tak bisa berucap kata lagi. Air matanya tiba-tiba mewakili kata-kata yang tak terucap dengan mengalir perlahan namun semakin deras dari kelopak mata yang ayu. Perlahan wajah Zahra terlihat sedih. Kepala tertunduk. Tangan melingkar pada guling. Kaki bersila. Ledakan tangisan pun tak terelakkan hingga membasahi guling kesayangan.

Di hari itu Zahra mengurung diri seharian di kamar. Kontan saja kedua orang tua Zahra merasa bingung karena seharian Zahra tidak keluar kamar. Bahkan untuk sekedar makan dan minum pun tidak. Padahal biasanya Zahra dikenal sebagai anak yang periang dan rajin. Sang ibu berusaha untuk memahami keadaan sang anak. Ia segera menghampiri kamar putrinya dan mengetuk pintu kamar.

“Zahra, kamu seharian mengurung diri di kamar, Nak. Ada apa?” tanya sang ibu dengan nada penuh was-was. Namun di seberang pintu tak ada jawaban yang terdengar.  “Zahra, ibu masuk kamar ya?” pinta sang ibu.

Setelah beberapa detik tak ada jawaban, sang ibu pun kemudian mencoba membuka pintu kamarnya yang memang tidak dikunci. Sebagai seorang ibu, sang ibu merasakan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada putrinya. Naluri keibuannya memberikan pemahaman kepadanya tentang bagaimana keadaan putrinya saat ini.

“Hmmm, pasti kamu sedih karena cinta ya?” hibur sang ibu sambil membelai kepala putri kesayangannya. “Sudahlah sayang, jodoh itu rahasia Allah. Tugas kita hanya sebatas ikhtiar tanpa putus asa. Pada akhirnya, Dialah yang akan menjadi penentu segalanya. Tenanglah anakku, kalau jodoh pasti bertemu. Namanya jodoh pasti tidak akan ke mana-mana, tapi kalau memang tak berjodoh ya pasti ke mana-mana. Barangkali memang dia bukan jodohmu. Insya Allah, Allah telah mempersiapkan jodoh yang lain yang terbaik untukmu” nasihat ibu dengan penuh kasih. “Paling tidak, kan ada manfaat dari yang kamu dapatkan sekarang. Coba lihat kamu sekarang, pakaiannya masya Allah begitu anggun dan syari. Kamu juga jadi pintar masak, jadi lebih rajin ibadah, dan sebagainya. Sudah jangan sedih lagi ya” bujuk sang ibu.

Zahra pun mulai mampu menahan kesedihannya dan menahan air matanya agar tidak mengalir lagi. Tiba-tiba di tengah keheningan antara Zahra dan ibunya, terdengarlah ketukan pintu depan rumah.

Tok... tok... tok...

“Assalamualaikum,” terdengar suara dari seberang pintu. Suara seorang lelaki.

“Nah tuh coba bukakan pintu, siapa tahu dia adalah jodohmu,” goda sang ibu pada putrinya.

“Ih apaan sih Ibu. Ada-ada aja deh,” sahut Zahra dengan nada sedikit cemberut. Sepertinya ia telah menemukan sedikit keceriannya kembali. Zahra pun segera menuju pintu depan untuk membukakan pintu bagi sang tamu. Ternyata dia adalah...

“Selamat pagi, Mbak. Saya sales dari perusahaan Perkasa ingin menawarkan produk kami yang barang kali cocok untuk kebutuhan keluarga Mbak..., produk yang kami tawarkan adalah bla..., bla..., bla...,”

Zahra pun hanya tersenyum kecut.



LANGKAH MENYUSUN BUKU SECARA SISTEMATIS

PELATIHAN BELAJAR MENULIS PGRI

LANGKAH MENYUSUN BUKU SECARA SISTEMATIS



Pertemuan  : 15

Hari/tanggal : Senin, 20 Juni 2022

Moderator  : Bambang Purwanto, S.Kom, Gr.

Narasumber : Yulius Roma Patandean, S.Pd.

            Malam kelima belas sekaligus separuh jalan sudah dilalui kelas peserta Belajar Menulis PGRI. Malam ini dipandu moderator bapak Bambang Purwanto, S.Kom, Gr. Beliau dikenal dengan nama pena Mr. Bams merupakan seorang guru informatika di SMP Taruna Bakti Bandung dan lulusan kelas belajar menulis gelombang 8. Selain menjadi pengajar TIK beliau pun seorang pegiat literasi, pendongeng, blogger, Support IT kelas online dan aktifis masyarakat. Karya tulis beliau dapat dinikmati di http://penamrbams.id.

            Sedangkan narasumber malam ini adalah Yulius Roma Patandean, S.Pd., M.Pd yang merupakan salah satu alumni kelas belajar mengajar di Gelombang 9, tepatnya di awal pandemi Covid-19. Selain menjadi guru Bahasa Inggris di SMA Negeri 3 Tana Toraja beliau pernah menjadi pengajar tidak tetap di Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia Toraja, Tutor Universitas Terbuka dan Fasilitator Belajar Yayasan Trampil Indonesia.

            Prestasi yang pernah diraih di antaranya Pemenang Ketiga Lomba Kreatifitas Guru Tingkat SMA pada Porseni PGRI Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2017. Meraih dua medali emas dan tiga medali perunggu Gurulympics PGRI tahun 2020. Guru Berprestasi jenjang SMA Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2021. Pemenang Kedua Lomba Video Best Practice Mengajar Dari Rumah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2021.

            Setelah memenuhi tantangan Prof. Richardus Eko Indrajit menulis buku dalam satu minggu pada bulan April 2019, maka niat narasumber dalam menulis buku sepertinya tidak berhenti dan terus dilakukan hingga kini. Karya tulis yang sudah dihasilkan pun sudah tak terhitung, dan yang paling baru adalah buku yang berjudul Guru Penggerak: Bergerak, Tergerak dan Menggerakkan. Karena beliau saat ini sedang dalam tahap menjalani pendidikan guru penggerak angkatan 4.

            Materi pertemuan kali ini adalah langkah menyusun buku secara sistematis. Menurut narasumber sistematis di sini yang dimaksud adalah  cara penulis menyusun naskah buku tidak terlepas dari tertatanya alur pikiran/ide yang dituangkan di naskah tersebut.

Artinya, sebelum memulai tahapan penyusunan naskah untuk dibukukan, penulis pasti sudah memiliki kumpulan naskah di laptop. Tidak apa-apa berserakan dulu, kumpulkan saja seperti mengumpulkan dedaunan yang berserakan di halaman. Nantinya, akan saling terkait satu sama lain ketika mulai menata naskah. Persiapan paling awal dalam menyusun buku yang sistematis adalah siapkan naskahnya dulu, pastikan naskah buku dalam ukuran kertas A5 telah terkumpul minimal 40 halaman (standar UNESCO) dilengkapi BABnya.

Narasumber kemudian membagikan sebuah tips untuk membuat daftar isi, indeks dan daftar pustaka yang rapi dan tidak merepotkan. Tips tersebut dibagikan beliau di link youtube https://youtu.be/eePQwyHAcjw.

Sungguh tips yang sangat mudah. Dan memang benar seperti yang dikatakan narasumber, cukup kumpulkan tulisan yang disiapkan untuk menjadi naskah buku. Dengan tips yang dibagikan narasumber maka menulis buku dengan sistematis menjadi mudah.

Sesi pemaparan materi telah usai dan dilanjut dengan sesi tanya jawab. Pertanyaan terakhir dari Mr. Bams, pertanyaan umum tentang dunia menulis. “Apakah ada manfaat dari kebiasaan menulis seorang guru dengan penerapan Kurikulum Merdeka?” Narasumber pun menjawab bahwa keterampilan menulis sangat bermanfaat. Dengan menulis dapat membantu narasumber dalam melakukan praktik baik pembelajaran yang kemudian dituangkan dalam blog. Selain itu di Kurikulum Merdeka, guru akan menulis modul. Guru yang mempunyai keterampilan menulis akan merasa mudah dalam membuat modul pembelajaran.


 

Senin, 20 Juni 2022

Menjadi Guru itu Takdir, Menjadi ASN itu Bonus

 






Menjadi guru adalah nasib atau takdir yang harus dijalani. Tak peduli seberapa keras berusaha untuk menjauh dari dunia mengajar, namun takdir selalu membawa kembali ke dunia mengajar. Mengapa disebut kembali ke dunia mengajar? Karena dunia mengajar bukan dunia yang asing bagiku. Dari kakek nenek, orang tua, pakde, bude, paklik, bulik hingga kakak sepupu pun berkecimpung dalam dunia mengajar.

Ketika memantapkan hati menjadi guru, tak terbesit sedikit pun keinginan untuk menjadi ASN. Dari awal niat hati menjadi guru hanya ingin mengajar dan mendidik dengan sebaik dan semampunya. Sama sekali tidak ada keinginan untuk menjadi ASN.

Pertama kali menjatuhkan pilihan untuk bekerja menjadi guru saat tahun 2012 setelah melalui proses wisuda prodi Bahasa Sastra Indonesia dan Bahasa Daerah Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang. Layaknya wisudawan yang lain, sebelum prosesi wisuda digelar sudah berusaha untuk melamar pekerjaan ke sana ke mari.

Mencoba melamar pekerjaan sebagai guru di beberapa sekolah di malang dan sekitarnya, meskipun diterima di salah satu SMPIT di kota Batu namun aku memantapkan hati untuk datang ke Kota Palangka Raya yang saat itu dijanjikan akan menjadi pengajar dan pendidik di salah satu Sekolah Dasar di kota Palangka Raya dikarenakan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia sudah pensiun. Nyatanya sampai guru pensiun tersebut menghembuskan nafas terakhir, aku tak kunjung juga mendapatkan panggilan mengajar.

Meskipun belum mengajar di sekolah aku sedikit memiliki kesibukan di bimbingan belajar primagama Palangka Raya, sambil menunggu status menjadi guru aku bisa menghabiskan waktu menjadi tutor di bimbingan belajar tersebut. Dan benar saja, berkat menjadi tutor itu akhirnya berkenalan dengan salah satu tutor, aku memanggilnya mbak Anggit, yang kemudian mencoba menawarkan untuk melamar di sekolah tempat beliau belajar.

Sabtu, 13 April 2013 aku mengantar surat lamaran ke sekolah dasar yang sudah direkomendasikan mbak Anggit. Tiga hari berikutnya sms masuk ke hp yang isinya meminta untuk hadir ke sekolah tanpa diberitahu bahwa kehadiran tersebut untuk menjalankan tes wawancara dan praktik mengajar.

Setelah melalui rangkaian tes tersebut, keesokan harinya di hari Kamis, 18 April 2012 diminta untuk datang dan langsung stand bye menjadi pengajar wali kelas di kelas 3 dari pukul 06.30-14.00 WIB. Sejak saat itu resmi lah diri ini menyandang status sebagai guru Sekolah Dasar Islam Terpadu Al-Furqan kota Palangka Raya yang menjadi tempat belajar untuk mengajar dan mendidik penerus bangsa.

Selama mengajar di sana, sedikit pun belum pernah terpikirkan untuk mencari sekolah yang lebih baik atau menjadi ASN. Pernah sekali mengikuti tes cpns di Kabupaten Pulang Pisau, dengan tujuan hanya ingin mencari pengalaman. Pengalaman mendaftar hingga mengerjakan soal-soal tes. Namun hanya sampai di pengalaman saja.

Menurutku menjadi ASN itu memikul tanggung jawab besar, dan saat itu aku merasa belum mampu untuk memikul tanggung jawab tersebut. Jiwaku masih jiwa berpetualang dan menginginkan kebebasan. Bahkan setelah menikah lalu dianugerahi putri kembar sekalipun jiwa masih ingin bebas.

Itu sebabnya setiap kali datang waktu penerimaan ASN, aku sama sekali tak tertarik. Bahkan orang tua selalu mendesak untuk melamar, namun lagi-lagi aku hanya menolak dengan beralasan “belum ingin menjadi PNS”

Selama menjadi guru honorer swasta silih berganti melihat teman-teman yang pergi meninggalkan sekolah karena mendapat kesempatan menjadi PNS. Pun masih belum membuatku untuk mengikuti jejak mereka.

Sampai akhirnya, di pertengahan tahun 2021, selepas pelaksanaan PAS semester genap, putri terakhirku menghadap kepada sang pencipta. Saat itu adalah titik terendah sebagai manusia dan sebagai ibu. Hilang semua hasrat yang berhubungan dengan kehidupan dunia. Tidak memiliki keinginan melakukan suatu hal, tidak memiliki keinginan untuk memiliki sesuatu bahkan sekedar nafsu makan pun tidak ada. Meskipun perut perih, namun tetap tidak bisa makan. Hari-hari penuh duka berlalu, sekolah memberikan cuti sampai waktu masuk tahun ajaran baru.

Meskipun mendapat keringan untuk cuti, aku tetap memaksakan diri untuk hadir saat pembagian rapor kenaikan kelas. Begitu pula dengan mengikuti kegiatan rapat dan pelatihan pengembangan kompetensi guru yang diadakan oleh sekolah. Hal tersebut kulakukan supaya tidak merasa jenuh berada di rumah, hanya diam dan menangis. Meski ketika berada di sekolah, beberapa kali tetap tidak bisa membendung air mata.

Tiba lah tahun ajaran baru, proses belajar mengajar pun berlangsung walau masih daring. Meskipun masih berduka tak memiliki keinginan namun aku selalu bersemangat ketika waktu mengajar tiba.

Mengajar ternyata menjadi healing yang ampuh di masa duka. Padahal untuk mengurus anak seperti memandikan, menidurkan, mengajak bermain dan belajar aku tak bisa. Mengurus anak aku tak bisa namun jika datang waktu mengajar aku sangat bergembira. Walaupun saat itu hanya belajar daring.

Setelah kasus pandemi covid varian delta mengalami penurunan, sekolah akhirnya melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT). Aku tetap bersemangat datang ke sekolah dan mengajar. Namun jika saat pulang, sepanjang jalan pulang dari sekolah sampai rumah, menempuh 11 KM, sepanjang itu pula air mataku deras mengucur hingga membasahi masker. Pasalnya waktu pulang adalah waktu yang membahagiakan karena ketiga peri cantik terutama yang bungsu tidak bisa tidur siang jika bukan ibunya yang menidurkan.

Hari semakin hari ternyata rasanya semakin berat. Berat rasanya setiap pulang selalu mengingat wajah ceria yang menyambut di balik pintu. Tidak hanya itu jarak ke sekolah pun terasa memberatkan. Sampai pada akhirnya terbesit sedikit keinginan untuk berhenti dari SDIT Al-Furqan yang sudah 9 tahun membersamai perjalanan hidupku.

Saat itu, entah mengapa rasanya susah untuk bertahan, bekerja menjadi guru honorer di sekolah swasta memang memikul beban yang berat, hal itu sudah menjadi rahasia umum. Bukan hanya satu atau dua sekolah, bahkan guru-guru satu nusantara pun akan mengakui bahwa menjadi guru di sekolah swasta memiliki beban kerja yang banyak.

Hal itu pula yang tengah aku rasakan, dulu sama sekali tak ada masalah. Sebanyak apapun beban kerja yang diberikan aku ikhlas mengerjakannya karena aku menyadari memang begitulah menjadi guru honorer di swasta.

Namun di pengabdian menuju 9 tahun kala itu ditambah kondisi jiwa yang terluka dan berduka, rasanya sudah tak mampu bertahan lagi. Ke mana aku harus mengajar. Usia sudah tidak muda lagi, mau melamar menjadi guru di sekolah swasta yang lain pasti akan bersaing dengan yang fresh graduate, terlebih jika perempuan sudah menjadi istri dan ibu pasti akan melalui pertimbangan panjang untuk diterima.

Beruntung lah saat itu dibuka pendaftaran tentang penerimaan ASN PPPK guru seluruh Indonesia tahun 2021. Aku pikir mungkin ini bisa menjadi jalanku untuk berhenti dari sekolah yang sekarang. Mendapatkan tempat yang baru, teman baru, suasana yang baru dan bisa sedikit memberikan kenangan baru.

Setelah membuat akun di halaman https://sscasn.bkn.go.id/ pada hari Ahad, 18 Juli 2021 dan menunggu pengumuman seleksi berkas, akhirnya aku dinyatakan lolos dan berhak mengikuti seleksi kompetensi tahap II di hari Jumat, 10 Desember 2021.

Di malam menjelang tes justru hati semakin galau. karena hati sudah bergantung, berharap untuk dapat lolos. Namun di satu sisi harus mempersiapkan diri bahwa ada kemungkinan tidak lolos padahal hati rasanya berat untuk bertahan. Apalagi  lolos dan mendapat formasi PPPK merupakan keinginan pertama kali yang kurasakan setelah mengalami kedukaan yang mendalam.

Sampai akhirnya aku mencoba untuk ikhlas dan pasrah. Aku pasrahkan semuanya kepada pemilik hidup supaya Allah atur mana yang terbaik untuk aku terima dan jalani. Lolos atau pun tidak, sudah tak kupikirkan lagi. Aku hanya perlu menjalani takdirku dengan baik dan bertanggung jawab dengan pilihan yang telah kupilih.

Jumat, 17 Desember 2021 akhirnya pengumuman resmi bisa di akses di laman https://sscasn.bkn.go.id/ selepas sholat subuh mencoba untuk membuka dan di sana didapati keterangan “lolos dan mengisi formasi”.

Alhamdulillah, meskipun ada rasa sedih berpisah dari sekolah dan teman-teman guru yang telah membersamai selama 9 tahun, namun ada rasa bahagia akan mempunyai tempat dan keluarga baru, dan tanggung jawab baru. Dan yang paling penting harus diingat, bahwa di setiap keadaan dan tempat baru ada visi dan misi yang diemban.

 

“Seiring dengan datangnya kekuatan yang besar, datang juga tanggung jawab yang besar”  Ben Parker, Spiderman 2002

 

Minggu, 19 Juni 2022

Pinggiran Sungai Kahayan

 

Pinggiran Sungai Kahayan

Fajar telah menyingsing, menandakan hari baru telah tiba. Semua masyarakat di pinggiran sungai kahayan beranjak dari kediaman, menampakkan kesibukannya. Di antara mereka ada yang pergi berburu, memancing, berladang dan aktivitas lainnya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Begitu pula denganku, setiap hari aku bercocok tanam di halaman belakang rumah dengan istriku, Bungas, dan adiknya, Oboi.

Hasil dari bercocok tanam tak dapat langsung kami nikmati. Untuk makan sehari-hari terkadang aku pergi memancing atau berburu. Oboi biasanya menemani ketika pergi berburu atau memancing. Usianya masih muda, tapi semangatnya luar biasa, begitu pula dengan kedisiplinannya. “Bang, hari ini kita berburu atau memancing?” tanya Oboi.

“Sepertinya hari ini kita pergi memancing saja Boi, abang ingin makan ikan jelawat,” jawabku.

“Wah, enak tuh bang. Ayo segera berangkat, Bang, agar tidak berebut dengan warga yang lain,”

Kami pun bergegas menuju sungai Kahayan dengan harapan mendapat ikan jelawat yang segar. Rasanya yang luar biasa mulai terbayang-terbayang di benakku. Ah, sedapnya...

Dari kejauhan tampak air kecoklatan yang memanjang dan mengalir terus-menerus tanpa batas. Tiga puluh menit berlalu tak seekor ikan pun yang kami dapat. Aku dan Oboi tetap bersabar menunggu sambaran ikan pada mata kail kami. Tiga puluh menit kemudian berlalu, senyum Oboi akhirnya mengembang. Mata kailnya disambar oleh ikan patin.

“Horeee,,,, lihat Abang, Oboi berhasil dapat ikan!” katanya sambil berjingkak.

“Hebat Oboi, cepat letakkan ke dalam ember!”

Lima belas menit kemudiaan mata kailku baru ada yang menyambar, dengan penuh keriangan aku mengangkatnya tinggi, namun seketika senyumku menciut karena bukan ikan jelawat yang menyambarnya, namun ikan saluang.

“Tak apa Bang, mari kita coba lagi. Siapa tahu setelah ini akan ada banyak ikan yang menyambar mata kail kita,” hibur Oboi.

Satu jam berlalu, aku dan Oboi memutuskan untuk pulang. Kami berdua harus puas dengan ikan patin, saluang, dan sepat yang kami dapatkan. Cukuplah untuk makan selama 3 hari, pikirku. Bayangan nikmatnya ikan jelawat pun sirna dari kepala.

“Bang, persediaan makanan semakin menipis,” keluh Bungas suatu hari.

“Hasil bercocok tanam pun tak lagi bisa diharapkan karena hujan tak kunjung datang,” tambahnya.

“Musim kemarau mulai datang, pantas saja ikan tak banyak muncul,” aku membatin.

“Sabar, Dik. Abang dan Oboi akan berburu untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari,” jawabku menghibur.

Senyum merekah dari bibir Bungas menyembul membuat hatiku damai. Aku pun berangkat dengan Oboi untuk berburu dengan membawa riwayang. Riwayang adalah sejenis tombak, namun memiliki tali. Ketika ditombakkan ke binatang buruan, sekalipun buruannya besar dan mampu mematahkan gagang tombak, tombaknya tidak bisa lepas. Selain membawa riwayang, kami pun membawa petan atau sumpit.

Setibanya di tengah hutan, aku dan Oboi bersembunyi untuk mengintai hewan yang bisa diburu. Di antaranya rusa, babi hutan, unggas dan hewan buruan lainnya. Tanpa menunggu lama kami pun menjumpai seekor rusa yang tampaknya tersesat dari rombongannya. Kesempatan ini tak mungkin kusia-siakan. Dengan segera kuberi isyarat pada Oboi. Oboi pun mengangguk. Kami pun segera membidik dan menjatuhkan rusa dengan sumpit yang telah dilumuri getah pohon karet.

Aku dan Oboi bersorak ria, tak perlu waktu lama kami  mampu pulang dengan membawa buruan yang sangat lezat.

“Hore, kita bisa makan enak Bang,” sorak Oboi.

“Iya, rusa sebesar ini cukup untuk 5 hari Boi,” jawabku.

Aku pun mengikat kaki rusa dan mengikatkan pada sebatang kayu untuk dipanggul.

 



Bersambung . ..

SOAL ULANGAN HARIAN TEMATIK KELAS 1

Kerjakan soal berikut ini! Memuat…