PELATIHAN BELAJAR MENULIS PGRI
PROOFREADING SEBELUM MENERBITKAN BUKU
Pertemuan : 12
Hari/tanggal : Senin,
13 Juni 2022
Moderator : Nur
Dwi Yanti
Narasumber : Susanto,
S.Pd.
Gelombang : 26
Menjadi penulis tidak cukup dengan hanya memiliki skill
menulis atau menuangkan ide. Jauh daripada itu menjadi seorang penulis seyogyanya
mampu melakukan proofreading. Kemampuan ini membantu penulis untuk merasakan
peka terhadap kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam karya tulisnya sebelum
dipublikasi. Baik itu tulisan di koran, majalah, media online maupun di buku.
Kelas belajar menulis malam ini dipandu oleh ibu Nur Dwi
Yanti, seorang guru di SDN Muncul 03, Tangerang Selatan, Banten. Merupakan alumni
kelas belajar menulis gelombang 24. Dan narasumber bapak Susanto,
S.Pd. yang kemudian beliau lebih di kenal dengan nama pak D.
Pak D merupakan penulis yang berpengalaman. Tidak hanya mahir dalam menulis,
beliau juga dikenal sebagai editor dan kreator konten. Beliau sehari-hari
mengabdikan diri sebagai guru sekolah dasar di SD Negeri Mardiharjo, Kabupaten Musi
Rawas Provinsi Sumatra Selatan. Pak D Sendiri adalah alumni kelas BM angkatan
15.
Tanpa berbasa-basi pak D kemudian memulai kelas dengan
mengutip potongan tulisan dari peserta kelas Belajar Menulis gelombang 26. Berikut
potongan tulisan yang dikutip
Bahan diskusi malam ini
mengapa harus belajar menulis fiksi?
apa saja syarat menulis fiksi?
apa saja bentuk cerita fiksi?
Apa saja unsur pembangun cerita fiksi
bagaimana kiat menulis cerita fiksi?
Narasumber kemudin
meminta peserta untuk memperbaiki apa yang salah dari tulisan tersebut. Aktivitas
membaca dan memperbaiki yang baru saja diminta oleh narasumber bisa dikatakan
proofreading. Jadi, proofreading atau kadang disebut dengan uji-baca adalah
membaca ulang sebuah tulisan, tujuannya adalah untuk memeriksa apakah terdapat
kesalahan dalam teks tersebut.
Kesalahan yang
terdapat dalah potongan tulisan tersebut terletak pada penulisan huruf kapital.
Penulisan huruf di awal kalimat seharusnya ditulis dengan huruf kapital. Dalam melakukan
proofreading, kesalahan yang dimaksud tidak melulu kesalahan penggunaan tanda
baca, melainkan ejaan, konsistensi dalam penggunaan nama atau istilah, hingga
pemenggalan kata dapat diminimalkan.
Walaupun proofreading
itu merupakan tugas editor, akan tetapi, jika naskah yang dikumpulkan atau
dikirim memiliki kesalahan yang minimal, tentu tugas editor semakin ringan. Dan
bisa jadi tulisan tersebut mendapat "apresiasi yang baik" sehingga
dibaca tuntas dan bisa lolos. Dengan demikian penulis sebaiknya belajar
melakukan proofreading sehingga mampu
untuk peka terhadapa kesalahan penulisan dan meminimaslisir kesalahan dalam
tulisan.
Lantas, apa
saja tugas seorang proofreader?
Harus dapat
mengenali:
- Apakah sebuah
kalimat efektif atau tidak
- Susunannya
sudah tepat atau belum
- Substansi
sebuah tulisan dapat dipahami oleh pembaca atau tidak
Mengapa harus
melakukan proofreading?
Proofreading
merupakan tahapan penulisan yang sebaiknya tidak dilewatkan. Terutama jika berniat
untuk menerbitkan karya tulis kepada khalayak luas. Menyuruh orang lain sebagai
proofreader, setidaknya ada sesuatu yang harus "dikeluarkan". Jika
tidak berupa uang jasa ya, ucapak terima kasih.
Narausmber kemudian
membuatkan ilustrasi,
"Bu Yanti,
boleh dong minta tolong periksa tulisan saya?"
(Bu Yanti pun
melakukan proofreading.)
"Udah tuh,
coba baca lagi," kata bu Yanti.
(Penulis pun
membaca kembali tulisan yang sudah diuji baca oleh bu Yanti.)
"Makasih
ya, Bu. Senang deh punya temen kayak Bu Yanti," kata si penulis.
(Penulis dan bu
Yanti pun bersalaman.)
Untuk membayar jasa proofreader dibutuhkan biaya yang tidak murah, oleh karena itu dengan melakukan proofreading sendiri sebelum naskah diterbitkan, penulis telah menghemat biaya.
Bagaimana cara melakukan
proofreading?
Pastikan
tulisan sudah jadi atau sudah selesai. Terkadanng di tengah-tengah menulis
muncul keinginan untuk menulis dengan sempurna, akhirnya khawatir dan ingin
segera memperbaiki yang ujungya membuat penulis terjebak untuk melakukan
perbaikan dan hal ytersebut menyebabkan naskah tidak selesai.
Setelah naskah
selesai ditulis, edapkan beberap saat supaya pikiran tidak larut dalam tulisan.
Sehingga dapat melakukan proofreading dengan netral. Artinya, menilai karya
penulis secara objektif. Bertindaklah sebagai seorang “calon pembaca”.
Langkah-langkah
proofreading:
-
Merevisi draf awal teks. Membuat perubahan
signifikan pada konten dan memindahkan, menambahkan, atau menghapus seluruh
bagian.
-
Merevisi penggunaan bahasa: kata, frasa, dan
kalimat serta susunan paragraf untuk meningkatkan aliran teks.
-
Memoles kalimat untuk memastikan tata bahasa
yang benar, sintaks yang jelas, dan konsistensi gaya. Memperbaiki kalimat
kalimat yang ambigu.
-
Cek ejaan. Ejaan ini merujuk ke KBBI, tetapi
ada beberapa kata yang mencerminkan gaya penerbit, Pemenggalan kata-kata yang
merujuk ke KBBI, Konsistensi nama dan ketentuannya, Perhatikan judul bab dan penomorannya
Di akhir materi
narasumber pun memberikan tips untuk mengecek kesalah typo atau ejaan. Yaitudengan
mengcopy tulisan ke google dokumen. Di halaman tersebut tulisan yang salah
ketik atau typo akan diberi garis berwarna merah. Dengan tips tersebut akan
memudah untuk melakukan proofreadingdan menghemat wkatu.
Setelah menjawab
berbagai macam pertanyaan dari peserta kelas kemudian diakhr dengan clossing
statemen Membacalah, Anda akan mengenal dunia lebih dekat. Menulislah, Anda
akan dikenal dekat oleh dunia. - Madi Ar-Ranim.
Dengan membaca
maka kita akan berperan sebagai
proofreading, dengan menulis maka kita akan menjadi seorang yang akan di
kenang sepanjang hayat.


Mantap resumenya, salam literasi 🙏
BalasHapusSalam literasi
Hapus