Singkat cerita, penulis merupakan guru ASN P3K yang bulan April 2022 kemarin baru saja menerima SK. Menjadi ASN di usia 30-an membuat penulis melalang buana, berwisata ke masa lalu. Jika tak salah ingat, penulis pernah bergumam (ucapan adalah doa) dalam hati “Kalau memang ada takdirnya menjadi abdi negara, semoga Allah zinkan di usia 30-an”.
Hal yang melatar belakangi tersebut adalah anggapan orang
tua (ibu) penulis, bahwa beum dianggap sukses jika belum menjadi abdi negara. Urip
iku sawang sinawang kata orang Jawa, yang berarti apa yang tampak indah dan
mudah belum tentu sesuai seperti yang dilihat. Namun mamak demikian penulis memanggil, tetap
beranggapan bahwa dengan menjadi abdi negara hidup lebih terjamin hingga masa
tua dibanding menjadi tenaga honorer. Anggapan seperti ini dikarenakan
pengalaman yang terjadi di sekitar. Kakak tertua dari bapak adalah seorang ASN,
oleh karena itu mampu menyekolahkan anak-anaknya dengan baik. Sedangkan bapak
yang tidak menyelesaikan studi S1 menyekolahkan anak-ananya dengan perjuangan
yang lebih berat dibanding kaka tertua yang seorang ASN.
Pada awalnya penulis sama sekali tidak ada minat untuk
menjadi ASN. Bagi penulis pangkat dan status sosial bukan hal yang utama. Menjadi
guru yang terpenting adalah ikhlas mendidik dan menjadikan ilmu yag telah
didapat menjadi bermanfaat.
Namun terkadang terngiang-ngiang ucapan atau keinginan
mamak yang ingin melihat anaknya menjadi ASN. Sehingga muncullah ucapan
dalam hati tersebut. Dan kini di usia menjelang 32 ternyata Allah sungguh
mengabulkannya. Ucapan yang hanya diucapkan dalam hati tanpa menengadahkan
tangan, benar-benar telah Allah bayar dengan cara yang indah. Sebagai bukti bahwa
ucapan adalah doa.
Hari ini, Ahad 12 Juni 2022 baru saja selesai acara tasyakuran
yang dilaksanakan oleh kedua oarng tua. Padahal penulis telah bernazar jika
lolos P3K maka gaji bulan pertama akan penulis berikan untuk kedua orang tua. Namun
ternyata uang tersebut dkembalikan untuk anak dalam wujud tasyakuran
kecil-kecilan dengan mengundang keluarga dan tetangga.
Kasih sayang orang tua sepanjang masa, tak lekang oleh
waktu. Setua apapun seorang anak, dia tetap anak kecil di mata kedua orang tua.
Di usia dewasa begini, masih mendapat wujud perhatian dan cinta orang tua
membuat penulis merasa haru dan malu. Mengingat ketika masih anak-anak seperti
tidak memahami cinta orang tua, sering membantah, berdebat dan bertengkar. Namun
kini setelah merasakan menjadi orang tua membuat sadar bahwa adanya orang tua adalah
rizki terbesar bagi anak.
Setiap kali kemudahan yang diterima anak, bisa
jadi Allah sedang mengabulkan doa orang tuanya
Semoga Allah memberikan balasan kebaikan untuk seluruh
orang tua, diberi kebahagiaan di usia senja, terhindar dari api neraka dan kekal
di dalam surga.



Maa sya Allah Barkah orang tua, Rizki anak jadi mudah
BalasHapus